Jawab Kubu Cikeas, Yusril Ungkit SBY Jadi Presiden RI ke-6

0
238
Yusril Ihza Mahendra Ahli Hukum Tata Negara dan Eks Presiden SBY.

Jakarta, NAWACITAPOSTSAAT SBY dicapreskan di 2004, peran Ketua Umum Partai Bulan Bintang  (PBB), Yusril Ihza Mahendra  punya andil besar. Selain perlu dukungan partai, SBY kala itu,  meminta pertolongan dari ahli tata negara. Dan Yusril pilihan tepatnya, yang piawai dalam menyoal persoalan hukum mengenai Pileg, Pilkada, dan Pilpres.  

Baca Juga : Yusril Bela Moeldoko, Demokrat AHY Terancam Bubar

Sepertinya, persoalan andil dan bantuan terkait itu antara dua partai (Bulan Bintang dan Demokrat ,  terkubur selamanya. Namun, entah mengapa kuburan suara politik pencalonan dan dukungan itu mulai terbongkar. Ya, setelah Andi Arief orang kepercayaan utama SBY mempersoalkan dukungan Partai Demokrat (PD)  kepada Yuri Kemal  maju di Pilkada Belitung Timur 2020, Jumat (24/9/2021).

Mendengar pernyataan Andi, Yusril pun memberikan perlawanan dengan mengungkit jasa Partai Bulan Bintang (PBB) kepada SBY di Pilpres 2004.

Andi melontarkan kalimat itu, karena kesal dan mungkin marah, Yusril sebagai kuasa hukum kubu Moeldoko dalam kisruh PD.

Terlepas dari keterkaitan itu. Meminjam ungkapan pengamat politik Burhanuddin Muhtadi, bahwa Politik yang perlu diawasi dan diwaspadai adalah panggung belakang bukan panggung depan.

Kini panggung belakang PD SBY sedang ditinggalkan oleh 3 partai saat Pilpres 2019. Gerindra, PAN, dan PKS sudah keluar dari pintu utama Demokrat.

Ditambah persoalan yang mendera kini harus dihadapinya. Yusril yang ditunjuk menjadi pengacara empat mantan kader PD akan mengajukan judicial review ke Mahkamah Agung (MA) terhadap AD/ART Demokrat.

Maka, penyematan yang tepat dianugerahkan ke Cikeas : Ketar-ketir, gemetaran, dan mungkin sebentar lagi bendera putih dibentangkan dihalaman rumah pribadi SBY.

Bagaimana tidak. Melihat reputasi dan rekam jejak Yusril yang ahli hukum tata negara, selalu memenangkan perkara dalam sengketa terkait Pilkada, Pileg dan Pilpres, nampaknya menjadi catatan utama buku harian SBY,  dan mungkin tak akan dibacakan dalam konferensi persnya nanti.