Pecandu Narkotika Adalah Korban, Mereka harus mendapatkan perawatan rehabilitasi yang tepat

0
82

Jakarta, NAWACITAPOST – Tindak kejahatan penyalahgunaan narkotika saat ini sudah sangat meresahkan, narkotika yang kini sangat digandrungi masyarakat, tidak hanya dari kalangan strata menengah kebawah, strata sosial dari kalangan menengah atas pun banyak terjerat tindak penyalahgunaan narkotika.

Bahkan, kita sering membaca atau menonton berita adanya artis ataupun pejabat yang terjerat kasus narkotika. Walaupun Badan Narkotika Nasional sudah berulang kali mengatakan dan mensosialisasi bahaya narkotika, dikarenakan sifat manusia yang selalu ingin tahu, dan masifnya pemberitaan mengenai narkotika itu sendiri, sehingga banyak masyarakat penasaran apa itu Narkotika dan jenis jenisnya.

Saat ini negara pun sadar narkotika adalah ancaman teror terhadap bangsa, sehingga negara memerintahkan perangkat hukumnya seperti Badan Narkotika Nasional (BNN) berserta Kepolisian mengikrarkan perang terhadap segala bentuk kejahatan Narkotika.

Perang terhadap narkotikapun digalakkan, akibatnya, banyak para bandar narkotika dan pengguna tertangkap petugas hukum negara.

Untuk kalangan produsen dan kaki tangannya (Bandar), Negara Indonesia bertindak tegas dengan menghukum seberat beratnya. namun permasalahan bagi para korban yaitu pengguna, negara sudah memfasilitasi dengan dibangunnya beberapa tempat pusat rehabilitasi ketergantungan zat adiktif narkotika.

Dengan masifnya serangan narkotika untuk menghancurkan generasi muda yang terus dilakukan para mafia dan bandar narkotika untuk mencari peluang keuntungan di negara berkembang ini, akibatnya banyak korban yang terpapar penyalahgunaan narkotika.

Karena banyaknya korban penyalahgunaan narkotika ini banyak dari kalangan muda, bahkan beberapa tempat pusat rehabilitasi narkotika dan obat obat terlarang milik negara tidak dapat menampung jumlah korban pengguna narkotika, Sehingga negara saat ini membutuhkan yayasan swasta sebagai panjang tangan negara untuk membantu merehabilitasi para korban pecandu narkotika.

Polisi dan alat hukum negara pun saat ini sangat memerlukan bantuan yayasan rehabilitasi swasta yang mempunyai standart penanganan rehabilitasi seperti milik negara, namun tidak sedikit dari yayasan swasta yang tidak memenuhi standarisasi penanganan rehabilitasi justru bukannya untuk membantu para korban untuk berobat dan manjauhi narkotika, justru beberapa yayasan swasta ini mencari keuntungan dari para korban penyalahgunaan narkotika.

Bahkan tidak sedikit yayasan swasta justru menjadikan pusat rehabilitasi tersebut sebagai ladang mencari keuntungan dengan cara memeras dengan dalih perawatan.

Akibatnya beberapa yayasan yang benar benar melakukan rehabilitasi sebagai tindakan sosial guna memerangi narkotika, justru dirugikan oleh beberapa yayasan nakal yang sering memeras para korban yang berkerja sama dengan segelintir oknum aparat penegak hukum yang nakal.

Menurut Bambang Suranto Ketua Presidium Indonesian Civilian Police Watch, yang ditemui nawacitapost di bilangan Jakarta Selatan menjelaskan bahwa kasus adanya pihak yayasan swasta yang mencari keuntungan ditengah penderitaan keluarga korban penyalahgunaan narkotika itu sudah berlangsung sejak lama.

“Jadi untuk modus tersebut sudah lama beredar dan beroprasi, seharusnya pihak penegak hukum dan pihak yayasan itu tidak boleh melakukan tindakan tindakan manipulasi, dengan dalih uang perawatan kepada para korban penyalahgunaan narkotika, jadi tindakan meminta uang dengan jumlah tertentu yang dilakukan pihak oknum yayasan swasta dengan dalih pembiayaaan itu sangat sangat tidak diperbolehkan dalam penanganan kasus penyalahgunaan narkotika, ya kalo meminta pembayaran untuk uang perawatan ya korbannya harus menerima perawatan donk,” jelas Bambang, Senin, (14/09).

Dijelaskan Bambang, pemerintah saat ini sudah memberikan fasilitas terbaik untuk para korban penyalah gunaan narkotika, dan fasilitas itu dapat digunakan oleh seluruh. lapisan masyarakat yang menjadi korban penyalahgunaan narkotika.

“Fasilitas terbaik sudah diberikan pemerintah secara gratis agar para korban penyalahgunaan dapat keluar dari cengkraman gurita Narkotjka, namun dikarenakan banyak korban yang harus melakukan rehabilitasi, membuat fasilitas milik pemerintah itu selalu penuh, nah disilah peran yayasan swasta sangat dibutuhkan,” ungkap Bambang.

Bambang yang mengkomandoi Indonesia Civilian Police Watch sejak tahun 2020 ini menambahkan bahwa peran yayasan swasta saat ini sangat dibutuhkan untuk membantu negara memerangi perang terhadap narkotika.

“Perang terhadap narkotika itu harus dilakukan semua unsur masyarakat, memdirikan fasilitas rehabilitasi yang sesuai standart nasional itu sangat lah mulia, namun jangan juga mencari keuntungan yang sangat besar dari para korban, ya sesuai lah,” tutup Bambang kepada wartawan di Semanggi.

Sementara itu menurut Ferdy Gunawan ketua Yayasan Pemulihan Natura Indonesia atau yang biasa dikenal dengan yayasan Ultra, yang diketahui sebagai salah satu yayasan rehabilitasi narkotika swasta yang cukup besar di Jakarta ini mengatakan saat ini yayasan rehabilitasi pertama harus memiliki izin yang lengkap untuk beroperasi dan memiliki fasilitas lengkap agar dapat menunjang pelayanan rehabilitasi yang diberikan kepada penerima manfaatnya yaitu korban penyalahguna dan juga keluarga korban.

“Yayasan rehabilitasi itu harus mempunyai fasilitas yang mumpuni tentunya menyesuaikan dengan standar nasional untuk rehabilitasi penyalahguna, tidak hanya menyedikan tempat yang ramah terhadap para korban, fasilitas seperti, tenaga medis, dokter dan juga tim program yang professional pun harus ada untuk memantau perkembangan dari para korban itu sendiri,” ucap Ferdy saat ditemui di bilangan jakarta selatan Senin, (14/9).

Ferdy juga mengatakan bahwa saat ini banyak berdiri rumah rumah rehabilitasi, namun sangat disayangkan rumah atau yayasan rehabilitasi itu justru tidak memperhatikan ada banyak sarana dan prasarana yang harus dipenuhi terlebih dahulu sebelum menjalankan praktik rehabilitasi.

“Ya saat ini banyak mas, berdiri yayasan seperti kami, namun terkadang masih banyak yang mengenyampingkan perlunya berbagai fasilitas baik sarana inti ataupun pendukung yang sangat diperlukan untuk menjalankan program rehabilitasi yang komprehensif,” jelas Ferdy.

Dikatakan Ferdy kepada wartawan, dia sudah menjadi penggiat yayasan yang bergerak dibidang rehabilitasi sejak tahun 2014 itu mengatakan dirinya juga telah melakukan berbagai terobosan dan inovasi serta kreasi agar rumah rehabilitasi miliknya dapat menyediakan fasilitas yang lengkap bagi para penerima manfaat.

“Kami pun sampai dengan saat ini masih terus mengembangkan dan mengevaluasi agar kami terus bisa menyesuaikan diri dengan kebutuhan-kebutuhan dari klien kami. Fasilitas tempat yang aman dan nyaman, fasilitas olahraga, inovasi program, pengawasan kesehatan klien bahkan laboratorium kami sediakan demi pemenuhan fasilitas bagi klien yang direhabilitasi di tempat kami apalagi di era pandemi seperti sekarang ini,” ucap Ferdy.

Dia pun menjelaskan bahwa di era pandemi ini demi menjaga kesehatan dan stabilitas rumah rehabilitasi dari wabah, Ultra menjalankan kegiatan sehari-hari selain dengan menjaga protokol kesehatan sesuai aturan pemerintah, mereka juga memiliki fasilitas laboratorium, sehingga untuk peserta program yang secara resmi hasil antigen atau PCR positif Covid mereka memiliki sarana rehabilitasi khusus dan terpisah dari peserta lainnya namun tetap dapat diikutsertakan dalam program pemulihan dan tetap dalam pengawasan medis.

Sejauh dari apa yang telah dilakukan dalam mengembangkan rumah rehabilitasi miliknya, Ferdy menambahkan bahwa dia sangat menyesalkan jika ada yayasan rehabilitasi swasta yang hanya mencari keuntungan dengan meminta biaya rawatan untuk berbagai tindakan program namun tidak dilakukan karena yayasan tersebut tidak mempunyai fasilitas dan prasarana yang lengkap dan memenuhi standar.

“Jika dikami, para korban penyalahgunaan narkotika itu tetap menerima apa yang harus mereka jalani sesuai ketetapan rehabilitasi. Di tempat kami, para korban tetap menerima seluruh poin bimbingan rehabilitasi, baik berupa pemeriksaan medis, konsultasi dengan psikolog, bimbingan konselor, bimbingan vokasional bahkan rawat inap serta rawat jalan tetap kami lakukan. Bahkan untuk memastikan keberhasilan rehab tersebut petugas dari kami selalu memantau perkembangan baik melalui telepon kepada korban atau melakukan kunjungan langsung ke para korban,” jelas Ferdy, saat ditemui di wilayah Karang Tengah, Fatmawati, Jakarta Selatan.

Ferdy juga menambahkan jika masyarakat ada yang merasa sanak familynya terlihat adanya gelagat pemakai narkotika, dirinya berserta yayasan yang dikomandoinya selalu terbuka untuk menerima rehabilitasi mandiri dari pihak keluarga.

“Rehabilitasi yang datang dengan kemauan sendiri atau rekomendasi pihak keluarga akan kami terima, itu lebih baik sebelum nantinya tertangkap oleh polisi karena akan lebih repot nantinya dan jika tertangkap pasti akan bersentuhan langsung dengan undang undang yang berlaku, ya menurut saya para pecandu narkotika itu adalah korban, sehingga para korban itu berhak mendapat tempat rehabilitasi yang layak serta dengan program yang tepat, sehingga mereka bisa lepas dan menjauhi gurita narkotika,” tutupnya.

Sebagai tambahan informasi klinik laboratorium yang bekerjasama dengan Ultra juga dapat dimanfaatkan oleh masyarakat umum hal ini dipastikan oleh Ferdy Gunawan selaku Ketua Yayasan Ultra sekaligus Direktur Utama pada klinik laboratorium dimaksud. (Dre)