Waspada! Capres yang Diusung Ormas dan Parpol Radikal di Pilpres 2024

0
157
Ilustrasi lawan radikalisme

Jakarta, NAWACITAPOST– Pemilihan Umum (Pemilu) adalah wujud dari sebuah negara untuk menunjukkan eksistensinya dalam sistem demokrasi dalam rangka mencari pemimpin pilihan rakyat. Namun ditengah pelaksanaan pesta demokrasi itu masyarakat Indonesia harus waspada adanya penyusupan atau munculnya kelompok radikalisme dalam gerakan Pilpres 2024.

Pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat Bidang Penanganan Terorisme. M Najih Arromadloni membenarkan adanya penyusup kelompok Radikalisme yang masuk dalam politik di Indonesia.Termasuk dalam Pilpres 2024.

Bahkan, kelompok radikal itu akan masuk dalam gerakan Organisasi Masyarakat (Ormas) dan Partai Politik (parpol) yang berbasiskan radikalisme.

Patut diwaspadai calon presiden (Capres) yang di usung ormas dan parpol radikal yang maju di Pilpres 2024.

M Najih mengungkapkan, bahwa pertumbuhan kelompok radikal sejalan dengan pragamatisme politik pemerintah seperti yang terjadi di Mesir. Di mana pemerintah yang berkuasa menggunakan kelompok radikal sebagai kekuatan politik.

Tidak hanya itu, bayangan kelompok radikalisme yang masuk dalam Pilpres 2024 dapat terjadi jika masyarakat tidak lengah dan tidak waspada.

M Najih juga menjelaskan bagaimana kelompok radikal masuk dalam kelompok politik ideologis yang bergerak untuk merebut kekuasaan. Dengan mengambil kekuasaan, mereka melakukan dengan menggunakan cover agama.

Pernyataan M Najih ini sebagai gambaran bahwa capres yang diusung dari ormas dan parpol radikalisme menjadi ancaman bagi Pilpres 2024. Maka pentingnya peran masyarakat dalam mengawasi Pilpres 2024 dan lebih memperhatikan siapa sosok yang akan diusung.

Waspada Radikalisme Meningkat Jelang Pilpres 2024

Bahkan, Menteri Agama Yaqut Cholil Koumas mengatakan, radikalisme di Indonesia meningkat saat momen pemilihan presiden (Pilpres), Pemilihan Gubernur (Pilgub), dan pemilihan kepala daerah (Pilkada). Banyak aktor politik memanfaatkan agama untuk kampanye dan membuat radikalisme meningkat.

“Tingkat toleransi itu meningkat saat bertemu dengan momentum poliyik. Ada momentum politik itu kemudian meningkatkan sikap intoleran atau radikalisme,” kata Yaqut beberapa waktu lalu.

Selain itu, Yaqut mengungkapkan, radikalisme saat momentum politik paling terlihat saat Pilgub DKI dan Pilpres 2019 lalu. Di situ, kata dia, atmosfer radikalisme terasa tanpa harus membaca data survei.

“Kita lihat saat pemilihan gubernur Pak Ahok dengan Pak Anies itu. Bagaimana isu agama menjadi dominan dan itu naik pesat dan itu terulang kembali saat pilpres,” ujarnya.

Menurut dia, tidak ingin kontestasi politik membuat paham radikalisme meningkat. Dia bakal putar otak agar radikalisme tidak meningkat saat momen pesta demokrasi di Indonesia sedang bergulir ke depannya.