Moeldoko Kalahkan Gatot Nurmantyo Secara Meyakinkan

0
229
Jenderal TNI (Purn) Moeldoko (kiri) dan Jenderal TNI (Purn) Gatot Nurmantyo (kanan).

Jakarta, NAWACITAPOSTDua-duanya pensiunan Jenderal bintang 4.  Pernah menjabat Panglima TNI. Moeldoko era SBY dan Gatot era Presiden Jokowi. Namun, Jokowi pilih Moeldoko sebagai orang kepercayaannya menjadi Kepala Staf Presiden (KSP) dengan kata lain Moeldoko punya panggung untuk digaungkan.

Baca Juga : Jendral (Purn) Moeldoko Berpeluang Besar Didukung Jokowi Di Pilpres 2024

Berbagai lembaga survei seperti ; SMRC, Charta Politika, Indikator Politik Indonesia, CSIS, dan LSI, diantara keduanya jika bertarung dalam laga 2024, Moeldoko Unggul meyakinkan terhadap Gatot.

Baca Juga : Gatot Nurmantyo : Menyesal Terlambat Ambil Kesempatan KLB Demokrat

Hal ini dikarenakan, Moeldoko pembawaannya tenang dan selalu memberi solusi. Berbeda jauh dengan Gatot,  ketika pensiun acap kali membuat gaduh, terlibat perlawanan kepada pemerintahan Jokowi dengan membentuk KAMI.  Lebih tepatnya, ikut merongrong presiden Jokowi. Padahal, Gatot pernah menjadi bagian pemerintahan saat menjadi Panglima TNI.

Hal lainnya yang lebih penting, khususnya mengenai konsesus nasional (Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika, dan NKRI). Boleh dikatakan, Gatot setelah pensiun diduga konsesus nasionalnya diragukan. Pembubaran FPI dan HTI, Gatot diam-diam menolak pembubaran tersebut.

Berbeda jauh dengan Gatot, Moeldoko warna dan penegakan konsesus nasional semakin jelas terang benderang. Bahkan selalu berada digarda terdepan. Dan, tak pernah kompromi kepada kelompok yang berpaham khilafah.

Kembali ke soal Survei, menurut peneliti senior CSIS, Arya Fernandes, diantara keduanya yang berpeluang mendongkrak elektabilitas dan popularitas, hanya Moeldoko. Jika Ketua Umum Partai Demokrat bisa diraihnya (sementara masih bersidang di Pengadilan soal kisruh Demokrat).

Artinya, Moeldoko bisa menyalip Gatot lebih jauh, bahkan bisa berada dalam barisan capres-capres yang telah disebut namanya ; Ganjar, Puan, Ridwan Kamil, dan Anies,  dengan catatan menjadi ketua Umum Partai Demokrat, imbuh Arya.