Gus Miftah Resmikan Gereja, Abdul Somad Marah

0
402
Kiri ke kanan ; pimpinan Pondok Pesantren Ora Aji, Sleman Yogyakarta, Miftah Maulana Habiburrahman biasa disapa Gus Miftah dan Abdul Somad. foto tangkapan layar Chanel Youtube Abdul Soamd dan Kolase.

Jakarta, NAWACITAPOST – Abdul Somad penceramah yang kerap mengatakan dan menganjurkan kata haram dengan orang yang tak sepaham dan tak sehaluan dengannya. Apalagi dengan keyakinan berbeda agama, haramnya lebih dari itu.

Baca Juga : Menteri Agama Gus  Yaqut Mengutuk Keras Pengeboman di Depan Gereja Katedral Makassar

KABAR teranyar, Somad yang baru menikah untuk kesekian kalinya dengan wanita berusia belasan tahun, dengan gencarnya mengkritik, menghujat serta marah ke Ulama, Dai yang juga Pimpinan Pondok Pesantren Ora Aji, Sleman Yogyakarta, Miftah Maulana Habiburrahman biasa disapa Gus Miftah yang hadir di Gereja kawasan Jakarta Utara awal Mei 2021.

Baca Juga : Menteri Agama Gus  Yaqut Mengutuk Keras Pengeboman di Depan Gereja Katedral Makassar

Kekesalan Somad terus berderet, merembet ke soal pemakaian baju, aksesoris dan hal-hal dari agama lain, berlaku kata haram untuk dipakai, jelas Somad yang disampaikan di Chanel Youtube pribadinya, awal Mei 2021.

Gus Miftah yang menjadi sasaran tembak Somad menanggapinya dengan santai dan penuh kata kedamaian. Tak ada kata kebencian meluncur dari bibir dan hatinya. Malahan mendoakan yang menghujatnya.

Gus Miftah menyampaikan di mimbar Gereja, bahwa kedatangannya bukan untuk berkhotbah atau berceramah, melainkan diminta meresmikan pembangunan Gereja Bethel Indonesia Amanat Agung, Jakarta Utara. Tak lebih dari itu. Bahkan dirinya sebelum pergi ke peresmian Gereja, semalam menggelar tahlilan di rumahnya, demikian ketika selesai peremian dirinya bersama jemaahnya melakukan tahlilan dan pengajian. Dirinya tetap berceramah ke jemaahnya.

Gus Miftah menyinggung dengan berkata daripada pergi ke tempat ibadah lain untuk membom dan bukan mengutuk, malah dibilang jihadis.

Malahan dirinya merasa happy ketika pulang dari peresmian Gereja. Sebab aura kesejukan dan kedamaian bisa juga dirasakan umat lain, tutur Ulama Gus Miftah.