Ambisius SBY Menjadi Presiden Sudah Ada Saat Orde  Baru

0
510
Wiranto saat menjadi Panglima ABRI dan Panglima Komando Operasi Kewaspadaan dan Keselamatan Nasional (Impres No 16 Tahun 1998), dan belakang kanan SBY (Kasospol ABRI kala itu)

Jakarta, NAWACITAPOSTSaat Mei 1998, jabatan Wiranto adalah Menhankam/Panglima ABRI, kala itu pula SBY sebagai anak buah Wiranto dengan jabatan Kepala Staf sospol. Era itu terjadi gerakan mahasiswa 1998 yang pusat kumpulnya di Parlemen Senayan. Kala itu masih orde baru. 

Baca Juga : Yusril Ihza Mahendra Jadi Ketua Tim Kuasa Hukum Moeldoko, SBY – AHY – Ibas Ketakutan

Supaya mahasiswa itu bubar (bisa dikendalikan) maka Soeharto memberikan surat berupa Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 16/1998 kepada Wiranto, dengan tambahan tugas sebagai Panglima Komando Operasi Kewaspadaan dan Keselamatan Nasional. Lewat Instruksi Presiden tersebut, ada sejumlah tambahan kewenangan yang dimiliki Wiranto sebagai Panglima ABRI dan Komando Operasi.

Boleh dikatakan melalui inpres itu, Wiranto bisa melakukan segala cara untuk menjaga keamanan dan ketertiban negara. Begitulah ungkapan Wiranto di acara seminar nasional Forum Nasional Mahasiswa Anti Penyalahgunaan Narkoba 2019 di Auditorium Harun Nasution, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta,  Ciputat, Tangerang Selatan, Kamis 28 Maret 2019.

Inpres 16 itu juga memberikan kewenangan Wiranto untuk membuat kebijakan tingkat nasional. Bisa dikatakan Wiranto untuk ‘berkuasa.’ Kalau saya (Wiranto) gila kekuasaan  bisa umumkan darurat militer, dan ambil alih kekuasaan  maka sudah menjadi  Presiden.

Seperti dilansir detik.com Maret 2019, terkait Inpres tersebut, Wiranto tanya ke SBY yang kala itu anak buahnya. Dan SBY sebagai Kasospol berkata ‘Pak kira-kira 200 mahasiswa mati.’ Waduh, mahal sekali harganya. Setelah itu pasti akan ada perang saudara. Makanya tidak diambil alih, ujar Wiranto.

Seharusnya, ketika  SBY tahu ada korban yang jatuh dari pengambil alihan kekuasaan, meminta Wiranto sebagai atasannya untuk mencegah, bukan sekedar melaporkan perkiraan jumlah korban.

Seandainya kalau kala itu yang jadi Panglima ABRI,SBY. Mungkin, dugaan pengambil alihan kekuasaan bisa terlaksana, dan korban pun berjatuhan. Lalu SBY bisa menjadi orang nomor satu ganti Soeharto. Hal ini bisa dikatakan bahwa ambisius SBY menjadi orang nomor satu di Indonesia sudah ada saat orde baru.