SBY Bersama Habib Rizieq Shihab

Jakarta, NAWACITAPOSTKongres atau Musyawarah Nasional (Munas) suatu organisasi termasuk Partai  tajuk utamanya adalah  pemilihan Ketua Umum.  Demikian pula dengan gelaran kongres Partai Demokrat, pilihan utamanya adalah kompetisi pemilihan Ketua Umum. Hal tersebut termaktub dalam AD/ART Partai, yang secara jelas menyatakan.

Baca Juga :Usulan Presiden Tiga Periode, Cara Amien Rais Rusak Reputasi Jokwi

KARENA pondasi utama Kongres pemilihan Ketua Umum. Berarti Ketua Umum memegang peranan penting dengan landasan pada AD/ART yang dirumuskan dalam arena Kongres.

Ternyata terpilihnya AHY sebagai Ketua Umum dalam Kongres V di Jakarta, Mei 2020, menurut Pengamat politik yang juga Direktur Eksekutif Indobarometer, M Qadari kekuasaan AHY sebagai Ketua Umum lebih kecil dibandingkan dengan Ketua Majelis Tinggi Partai. Padahal yang ada dalam AD/ART resmi terdaftar di Kemenkumham dengan acuan UU Politik adalah Ketua Umum.

Pasalnya, Ketua Umum itu selain di atur dalam AD/ART juga dibicarakan dalam arena Kongres. Sementara Majelis Tinggi Partai tidak ada. Alias lahir di luar Kongres, berarti menyalahi aturan dari AD/ART.

Maka lahirnya KLB Demokrat Sibolangit, Sumut meluruskan AD/ART dengan menghilangkan struktur Majelis Tinggi Partai, yang terlalu dominan dibandingkan dengan Ketua Umum yang di atur AD/ART. Bisa dibilang AD/ART 2020 (adanya Majelis Tinggi Partai)  pertanda minimnya demokrasi di Internal Demokrat.

Tragis atau terjadinya penyunatan demokrasi pada AD/ART 2020. KLB harus disetujui Majelis Tinggi, kita tahu suara majelis tinggi  suaranya 9, DPD 68 dan DPC 514. Jelas dan nyata kekuatan terbesar untuk adanya KLB adalah majelis tinggi, yang suaranya hanya 0,15  persen.

Jangan –jangan yang brutalitas demokrasi terjadi dalam AD/ART 2020 yang mana AHY terpilih tak boleh ada calon lain, dan dimasukannya struktur majelis tinggi partai yang sangat dominan kuasanya, ungkap M Qadari.

Baca juga :  Satresnarkoba tangkap Bandar SABU

Bisa dikatakan dengan jelas, kepercayaan SBY pada AHY sebagai Ketum Demokrat setengah hati atau tidak ada sama sekali atau SBY melihat ada gempuran yang dilakukan para deklarator dan pendiri Demokrat terhadap AHY, dan itu terbukti dari adanya KLB yang dilakukan para kader internal Demokrat.

Maka dugaan SBY melakukan brutalitas dmeorkasi di tubuh Demokrat begitu kental dan menguat adanya.