Kepala BPIP Prof. Yudianto Wahyudi Taburkan Nilai Pancasila Dalam Ruang Kebhinekaan Indonesia

0
205
Presiden Jokowi melantik Prof Yudianto Wahyudi sebagai Kepala BPIP. pada Rabu 5 februari 2020 di Istana Negara Jakatra sebelum Covid 19.

Jakarta, NAWACITAPOST – Saat Jokowi dipilih sebagai Presiden Indonesia periode 2014 – 2019, dan 2019 – 2020. Densus 88 pasukan anti teror sudah ada dan berhasil melumpuhkan para teroris, demikian pula dengan Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT). Jangan tanya keamanan lainnya TNI dan Polisi, serta penegak hukum lainnya, Pengadilan Negeri, semuanya itu ada dan bergerak sesuai dengan bidangnya masing-masing.

Baca Juga : Membumikan Pancasila, KNPI : Salah Satunya Kehadiran BPIP

Jokowi berpikir perlu ada suatu lembaga atau badan yang menyemaikan taburan Pancasila dalam ruang kebhinekaan Indonesia khususnya kepada kaum milineal.  Maka Badan Pembinaan Ideologi Pancasila BPIP merupakan revitalisasi dari Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKPIP) dihadirkan dalam mengisi ruang bhineka tersebut, melalui  Perpres Nomor 7 Tahun 2018.

Presiden Jokowi membahasakan ruang bhineka Indonesia itu sebagai pembumian Pancasila kepada generasi milenial. Pesan itu disampaikan langsung kepada Prof. Yudianto Wahyudi  yang dilantik sebagai Kepala BPIP, Rabu 5 Februari 2020 di Istana Negara Jakarta.

“Ada sekitar 129 juta anak muda dibawah 39 tahun yang perlu ‘diinjeksi’ ditanamkan pemahaman nilai-nilai Pancasila,” kata Jokowi ketika melantik Kepala BPIP, Prof Yudianto.

Pesan Jokowi itu, benar-benar dilaksanakan  Yudianto dengan penuh tanggung jawab. Gerakan dan gebrakan menyasar kaum milenal dalam menanamkan nilai-nilai Pancasila terus digelorakan. Berbagai kalangan mahasiswa dari berbagai lintas agama (HMI, PMII, GMKI, PMKRI, GMNI, KNPI, serta kelompok organisasi mahasiswa dan pemuda lainnya) diterimanya dengan tangan terbuka, diskusi dan solusi pun berjalan secara arif dan bijaksana, sehingga menghasilkan warna Indonesia yang berbhineka benar-benar ada dan menyebar diseantaro bumi nusantara tercinta ini.

Sementara pada tataran siswa; SD, SMP dan SMA ‘injeksi’ itu disemaikan dalam format sosialiasi konteks acara pada tingkatan Kecamatan, kabupaten atau kota, maupun provinsi serta skala nasional.

Prof Yudianto yang pernah jadi Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta sadar bahwa BPIP hadir dalam meredam paham-paham radikalisme dan terorisme pada kaum milenial yang usianya 39 tahun kebawah.  Senjata seperti Densus 88, dan ketuk palu sidang seperti hakim di pengadilan, memang tak dipunyai BPIP. Yang dipunyai hanyalah terus menanamkan nilai-nilai Pancasila dalam diskusi, seminar dan format-format acara milenial yang digandrungi anak muda, tapi dalam rumah bhineka Indonesia yang mana BPIP hadir baik diminta maupun tidak diminta kaum milenial.

Namun, dalam tataran lebih jauh dari itu. BPIP juga hadir dalam ruang aparatur sipil negara (ASN) yang anti Pancasila. Seragam ASN yang tidak biasanya, atau apel pagi yang tidak dihadiri ASN dengan berulang-ulang. BPIP hadir dan memberi warna khusus kepada ASN dalam lembaga-lembaga negara. Seperti dalam rekam jejak digital yang dilakukannya pada lembaga BP2MI pada Agustus 2020.

Yang jelas dan pasti hadirnya BPIP, perlahan namun pasti sudah memberi warna positif yang mencerahkan. Kebhinekaan dikalangan kaum milineal mulai tumbuh bergerak, walaupun masih belum sempurna, tapi arahnya sudah nampak dengan nyata dan dirasakan warga masyarakat dibelahan nusantara. Artinya, paham-paham radikalisme  mulai turun secara siginifikan atau dengan kata lain, ruang gerak paham radikalisme semakin menyempit dan terkunci. Salah satunya hadirnya BPIP