Lapas Perempuan Palu Adakan Pembinaan Akhlak Bagi WBP, Tutor Sebaya Penerapannya

0
221
Lapas Perempuan Palu Adakan Pembinaan Akhlak Bagi WBP

Jakarta, NAWACITAPOST –   Unit Pelayanan Teknis (UPT) khususnya di Lapas Perempuan Kelas III Palu, Kabupaten Sigi yang berada dibawah naungan Kanwil Kemenkumham Sulawesi Tengah terus menggalakan pembinaan rohani.

Baca Juga : Gelar Pisah Sambut : Rudi Adriani Bertugas Di Kanwil Kemenkumham Yogya, Catur Adi Putra Jabat Kakanim Kelas III Non Ketapang

Siraman rohani tersebut digelar  di Aula terbuka Lapas Perempuan Kelas III Palu (LPP) di Kabupaten Sigi,  dengan menerapkan Manajemen Pembinaan Akhlak/Kerohanian bagi Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) dengan metode Tutor sebaya baca Iqra dan Al-qur’an yang di ikuti oleh 104 (seratus empat) orang WBP, Senin (15/2/2021).

Kegiatan ini  selaras dengan terobosan Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Sulawesi Tengah, Lilik Sujandi yang beberapa waktu lalu mengunjungi SMP AL-Azhar Mandiri Palu dalam hal pendirian sentra pendidikan dan peningkatan pendidikan spiritual.

Lapas Perempuan Palu Adakan Pembinaan Akhlak Bagi WBP

LPP bergerak cepat dengan penerapan strategi pembelajaran Tutor Sebaya (peer teaching), Tutor Sebaya di LPP sendiri adalah kegiatan belajar mengajar yang memberi kesempatan pada WBP untuk mengajarkan dan berbagi ilmu pengetahuan atau keterampilan pada WBP yang lain untuk membantu temannya yang mengalami kesulitan dalam belajar agar temannya tersebut bisa memahami materi dengan baik, dalam hal ini terkait dengan pembinaan kerohanian baca Iqra dan Al-qur’an bagi WBP yang beragama Islam.

Tujuan dari Tutor Sebaya dalam Pembinaan Kerohanian tak lain untuk membentuk WBP agar memperbaiki diri dan tidak mengulangi tindak pidana sehingga jika sudah mendapatkan putusan bebas dapat diterima kembali oleh masyarakat serta dapat berperan aktif dalam pembangunan dan menjadi warga negara yang baik dan bertanggung jawab.

Walaupun mereka secaar fisik  berada dalam Lapas, tetapi siraman rohani perlu dan tetap dilakukan. Agar, nantinya setelah bebas menjalani masa hukumannya, Setidak-tidaknya tidak berbuat hal serupa lagi. Bahkan, syukur-syukur bisa menjadi penceramah yang bisa menginspirasi lingkungan sekitar dimana mereka tinggal.

+