Program Elevasi BPIP Tujuannya Mengangkat Energi Positif Masyarakat

0
354
Acara Bertajuk Menggali Nilai -Nilai Pancasila dari Bumi Bung Karno yang diselenggarakan BPIP di kantor Wali Kota Blitar, Jumat (6/11/2020). foto republika

Blitar, NAWACITAPOST – Cerdas, pintar dan punya keahlian dalam bidang tertentu sangat diperlukan. Namun itu belum cukup  disebut tokoh. Perlu keteladanan antara kata dan perbuatan menjadi syarat mutlak orang tersebut dikatakan tokoh. Nilai-nilai dalam keteladanan itu harus hadir di masyarakat.

Baca Juga : Gubernur Khofifah: Pancasila Jadi Modal Utama Bersatu Perang Melawan Covid-19

PANCASILA sebagai dasar negara  bagi  masyarakat Indonesia menjadi payung pergaulan semua warga bercengkrama dan berdialog.Seperti ;  Mengembangkan sikap saling menghormati  kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaanya masing masing.  Menghargai pendapat orang, tidak memaksakan kehendak orang. Mengakui persamaan derajad,  persamaan hak dan kewajiban azasi setiap manusia, tanpa membeda-bedakan suku, keturunan, agama, kepercayaan, jenis kelamin, kedudukan sosial, warna kulit. Mengembangkan persatuan Indonesia atas dasar Bhinneka Tunggal Ika. Suka menghargai hasil karya orang lain yang bermanfaat bagi kemajuan dan kesejahteraan bersama.

Terkait keteladanan , Wakil Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Prof Dr. Hariyono mengatakan, saat ini ada kegalauan tentang kesulitan mengaktualisasikan Pancasila dengan baik. Menurutnya, hal ini karena kurangnya keteladanan dalam masyarakat. Hal itu disampaikannya saat membuka seminar bertajuk Advokasi Positif : Menggali Nilai-Nilai Pancasila dari Bumi Bung Karno di kantor Wali Kota Blitar, Jumat (6/11/2020).

Sebenarnya, lanjut Hariyono di Indonesia ini banyak yang dapat dijadikan teladan atau panutan. Persoalannya, jika ada sesuatu yang baik di masyarakat, kadang-kadang dihiraukan begitu saja. Maka untuk menghadirkan hal yang jadi  itu,   BPIP memiliki program elevasi yang mengangkat nilai-nilai positif di masyarakat. Tujuannya adalah supaya energi positif masyarakat bisa diangkat.

Dalam psikologi, mengangkat sesuatu yang positif bisa memberikan energi positif. Karena dalam kehidupan sehari-hari, jika kita memancarkan energi positf maka hukum timbal baliknya positif juga,” kata Hariyono.

Seperti dilansir republika, di Blitar, ada seorang bernama Iwan Galau atau yang dikenal dengan nama Mujair yang pada 1937, karena kesulitan hidup, melakukan tirakat di tepi Samudera Hindia.  Kemudian, dia melihat ikan di laut yang sepertinya bisa dibudidayakan di air tawar.

Maka, ikan itu dia bawa ke kampungnya dan dilakukan percobaan hidup di air tawar dan ternyata kemudian mati.  Lalu, kemudian dia melakukan 11 kali percobaan memformulasikan air tawar dan laut hingga akhirnya ikan itu bisa hidup di air tawar. Dan kemudian, ikan itu berkembang hingga sekarang dikenal dengan nama ikan mujair.   Hal-hal seperti ini yang harus diangkat,” tutur Hariyono.