Usai Demo Anarkis Demokrat Merosot, PKS Cari Selamat Sendiri

0
473

Jakarta, NAWACITAPOST– Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Demokrat dengan Jumlah kursi Parlemen Senayan tak sampai 20 persen. Pada sidang komisi atau Badan Legislatif, kedua partai ini ikut bergabung dan membahas Omnibus Law UU RUU Ciptaker. Bahkan tanda tangan kehadiran di meja depan dan meja rapat nama-nama anggota partai ini beredar.

Baca Juga : Citra PKS Rontok, Demo Perantara Perbaiki Citra

BERLANJUT ke tahapan sidang paripurna, Senin 5 Oktober 2020 kedua partai ini seakan berbalik badan. Penolakan pun mulai dilancarkan. Sahutan pertanyaan bergemuruh dalam suasana sidang itu. Suaranya keluar dari partai yang menolak RUU ini menjadi UU.

Ketua DPR, Puan Maharani  yang menjadi Pimpinan sidang pun sempat menanyakan kepada peserta sidang apakah ada pertanyaan lagi. Karena sudah memahami dan tidak ada yang perlu dilakukan dalam mekanisme sidang. Karena peserta sebagian meneriakan lanjut. Maka, ketukan palu sidang itu sebanyak 3 kali dari  sang ketua sidang RUU ini Omnibus Law Ciptaker secara konstitusi sah menjadi UU.

Ketua Umum Partai Demokrat, Mayor TNI (Purn) Agus Harimurti Yudhoyono

Usainya sidang tersebut. Ketua Umum Partai Demokrat Mayor TNI (Purn) Agus Harimurti Yudhoyono tampil di hadapan awak media. Demokrat sudah berusaha Omnibus Law Ciptaker tidak menjadi UU. Tidak bisa dihentikan. Alasan suara Demokrat di DPR sangat kecil. Begitulah pengakuan suami dari Anisa Pohan. Kesannya ingin mendapat pencitraan.

Tak hanya sampai disitu, begitu buruh dan mahasiswa berdemo yang berujung rusuh. Pesannya kepada parlemen daerah kakak kandung dari Ibas ini memerintahkan agar DPRD tingkat I dan II dari Demokrat untuk menerima para pendemo.

Begitu demo  8 Oktober 2020 dan 13 Oktober 2020 yang berujung ricuh. PKS yang sejak awal bersama-sama menolak Omnibus Law dengan partai besutan SBY. Perlahan meninggalkan.

Sehingga begitu Demokrat di tuduh, dicibir, dimaki melalui media sosial. PKS malah  membiarkannya. Ditambah keluarnya mantan politisi kadernya, Ferdinand Hutahaen.  Partai ini selain merosot mulai ditinggalkan konstituen setianya.