Gus Dur Itu Presiden Tulus, Dilengserkan Pemain Politik Kotor

0
383
(alm) Presiden Keempat, Dur, bersama, Mafud MD (Menkopolhukam)

Jakarta, NAWACITAPOST- Walaupun hanya singkat menjabat sebagai Presiden keempat Indonesia. Hanya 2 tahun (1999-2001). Torehannya yang sampai saat ini berkesan dan dilakukan  adalah menetapkan Tahun Baru China atau Imlek sebagai hari libur Nasional. Padahal selama lebih dari 32 tahun perayaan itu tak pernah dan tak boleh dirayakan sebagai hari libur resmi negara.

Baca Juga : Mahfud MD: Zaman Orde Baru Koruptor Berpidato Anti Korupsi

Pembelaannya kepada kaum minoritas dan terpinggirkan tetap dilakukan sebelum, saat dan sesudah sebagai Presiden. Gus Dur melakukannya bersama mereka yang peduli terhadap hal-hal tersebut.

Langkahnya sebagai orang nomor satu terhenti. Karena dituduh menerima uang dari Brunei 14 miliar rupiah dan 35 miliar dari Bulog. Testimoni atau pembelaan kepada almarhum Gus Dur diucapkan Mafud MD dalam haul cucu dari KH Hasyim Asyari dihadapan para santri dan khalayak lainnya. Hal ini dilakukan supaya  kita (para santri) mengetahui hal yang sebenarnya.

Menurut mantan Ketua Mahkamah Konstitusi. Soal Bulog, itu wakil ketua Bulog, Sapuan mau menghadap Gus Dur, dan yang mempertemukannya Suwondo teman sekaligus tukang pijat Gus Dur. Pertemuan itu terjadi dan berfoto bersama.

Saat Sapuan hendak pulang, Suwondo berucap bahwa gUs Dur butuh dana.  Sapuan pun menyanggupi dan memberikan kepada Suwondo untuk diserahkan kepada ayah dari Inayah Wahid.  Sedangkan dana dari Brunei. Itu diberikan oleh Sultan Brunei, karena Indonesia saat itu masih mengalami krisis moneter- keuangan (kata Sultan Brunei). Dananya itu diserahkan ke Yayasan di Aceh. Untuk ulama-ulama Aceh guna meredam GAM. Diputuskan kena memorandum 1

Yang Bulog, Gus Dur tidak tahu sama sekali. Sidang pengadilan pun,  Sapuan menyerahkan uangnya kepada Suwondo. Ucapan Suwondo pun tidak menyerahkan kepada Gus Dur. Diputuskan kena memorandum 2.

Namun memorandum 1 dan 2  oleh DPR dan partai politik itu hanya menyebutkan patut diduga saja. Jadi kalau  Presiden dilengserkan atau dijatuhakn bunyinya tidak ada kata patut diduga. Hasil sidang pengadilan pun tidak terbukti Gus Dur menerima dana tersebut.

Dana Brunei,  Kepala Negara, Menteri tidak pernah mengirim surat resmi untuk meminta bantuan. Dana itu adalah zakat Sultan Brunei kepada Presiden Indonesia yang ulama. Namun, tetap saja memorandum kedua di berikan kepada Gus Dur, ujar Mafud MD.

Bahkan, mantan Ketua Tim Sukses  Calon Presiden Prabow, 2014 menjamin, Gus Dur tetap bisa jadi Presiden asal mau kompromi dengan partai politik dan DPR untuk menempatkan calon-calon atau titipan mereka sebagai Menteri.

Gus Dur hanya katakan, ucap Mafud. Lebih baik beliau Gus Dur) kehilangan tampuk sebagai Presiden daripada kompromi dengan oknum partai politik yang kotor. Jadi sebenarnya, kejatuhan Gus Dur sebagai presiden bukan kasus Bulog dan Brunei. Melainkan, tak komprominya Gus Dur terhadap politik kotor dan kompromi jahat. Gus Dur itu tulus dan  bersih  sebelum, saat, serta sesudah jadi Presiden.