Deklarator KAMI Dibully, Masyarakat Puas dan Percaya Kinerja Jokowi

0
576
Presiden Jokowi dalam Forum Internasional dengan Pemimpin Dunia, sebelum covid 19.

Jakarta,  NAWACITAPOST-Kritik itu perlu dan harus. Lebih dari itu solusinya ada. Begitulah kira-kira kita berdemokrasi secara sehat dan menjungjung tinggi nilai-nilai kepatutan. Lalu, apakah  yang dilakukan Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia disingkat KAMI benar-benar melakukan syarat tersebut.

Baca Juga : Masyarakat Sangat Puas Hasil Kinerja Jokowi di Masa Pandemi Covid-19

Aktivis 98, Budiman Sudjatmiko menyatakan bahwa mereka yang menyebut KAMI sebetulnya mereka itu butuh makan, butuh panggung. Karena sudah ditinggalkan, dan tidak dipakai lagi. Ya, tepatnya jadi gelandangan politik, sehingga mereka butuh pertolongan, begitulah Instragram budimanaktivis98 berkata, Rabu,19 Agustus 2020.

Presiden Jokowi Menghadiri Cara 20 Tahun Reformasi Bersama Aktivis 98

Pendapat senada disampaikan politisi PDI Perjuangan, Kapitra Ampera yang mempertanyakan dan menyangsikan KAMI ini sebuah gerakan moral. Cenderung lebih menonjolkan gerakan politik yang berbungkus gerakan moral.

Bahkan mereka ini meminta MPR untuk segera menggelar Sidang Istimewa melengserkan Presiden Jokowi meskipun narasi yang disampaikannya tersembunyi. Jika ada tuntutan seperti itu namanya kegiatan makar yang berbungkus moral. Jadi sudah jelas bahwa KAMI ini perbuatan makar.

Menurut Kapitra, tuntutan sidang istimewa merupakan tindakan yang tidak berdasarkan ilmu ketatanegaraan, karena tidak ada dasar yang jelas untuk diadakannya sidang istimewa menurunkan presiden. “Amandemen UUD 1945 telah menegaskan sistem Presidensil di Indonesia, sehingga, presiden di negara dengan sistem Presidensil hanya dapat diturunkan karena alasan-alasan yang diatur dalam konstitusi,” tandasnya.

Sedangkan elit PKB Abdul Kadir Karding KAMI bentukan Din Syamsuddin serta Gatot Nurmantyo, Refly Harun, Said Didu, Rocky Gerung, Ichsanuddin Noorsy, dan Ahmad Yani. Mereka ini adalah orang-orang yang kecewa ketika Pilpres 2019.

Runutan kekecewaannya bisa dijabarkan bahwa mereka ini sejak awal sudah berbeda dengan pemerintahan Jokowi, lalu tidak siap kalah dan tidak siap menang, semacam dendam lama kepada Jokowi.

Din Syamsuddin mungkin merasa kecewa karena sempat dulu sebagai cawapres oleh sebagian kelompok masyarakat. Namun Jokowi tak tahu soal itu dan tak meliriknya, Gatot Nurmantyo adalah Jendral aktif  selama 6 bulan tanpa jebatan, setelah posisi panglima TNI nya diserahkan kepada Marsekal Hadi Tjahjanto. Refly Harun dulu enak didengar penjelasan tentang masalah hukum tata negara, namun begitu pemecatan menerpa dirinya sifaf asliny mulai nampak. Peraturan atau ketentuan hukum pun bisa dikatakan sesuai dengan seleranya.

Said Didu adalah mantan Sekretaris Kementrian BUMN  penuh kontroversial bercitra negatif. Dipecat sebagai Komisaris PT Bukit Asam TBK karena selalu membuat gaduh dan perbedaan yang tak perlu dengan Pemerintah.  Rocky Gerung, orang ini selalu menyebut bahwa Jokowi dan pemerintah salah dan tidak benar. Namun tak memberi solusi yang jitu bagi negara. Kerjanya mengkritik dengan mengatakan bahwa lawan bicaranya adalah dungu.

Jangan-jangan dia sendiri yang dungu. Ichsanuddin Noorsy adalah mengaku ahli ekonomi yang selalu dekat dengan keluarga cendana. Sepertinya bisnis rezim orde baru pasca reformasi ada pikiran dan tindakan darinya.

Ahmad Yani sempat berlabuh di PPP namun pindah haluan ke partai baru yang sampai sekarang belum jelas partai itu muncul dan eksis. Selalu berbeda dengan pemerintah adalah ciri khasnya. Namun tak memberikan solusi yang jelas. Merasa dirinya benar. Padahal terpaan gagal caleg, tak dipakai pemerintah kerap menyertainya.

Kembali kepada aksi KAMI yang digelar tanpa protokol kesehatan yang ketat di tugu proklamasi, Selasa (18/8/2020) oleh orang-orang yang pernah dipecat negara menandakan mereka sengaja mengabaikan dan menyatakan bahwa pandemi corona  itu tidak berbahaya. Padahal mereka ini seharusnya menjadi panutan dan teladan.

Tujuan mereka sebenarnya mau mengajak kepada masyarakat dan mahasiswa untuk bersama-sama berdemo seperti tahun 1998. Ujung-ujungnya menggulingkan pemerintahan yang sah yaitu Jokowi.

Presiden Jokowi Bersama Tokoh Papua dan Papua Barat di Istana Negara, 2019

Namun ajakan mereka itu tak direspon apalagi didengar, yang ada malah deklarator KAMI dibully masyarakat karena puas dan sangat percaya kepada kinerja Jokowi.

Buktinya ditengah Pandemi ini Jokowi dan jajarannya berhasil menggerakan roda ekonomi. Progaram Bansos, pemberian kepada UMKM, pekerja dan kebijakan yang membantu masyarakat selalu dilaksanakan tanpa basa-basi. Semuanya itu dilakukan  dengan protokol kesehatan yang ketat.

Jokowi selalu lolos dari cengkraman para mafia ekonomi dan politik. Pencalonannya sebagai Gubernur Jakarta, dan calon Presiden selalu ada yang merongrong dan mencoba menggagalkan. Namun tak berhasil.

Bahkan Kakek yang punya empat cucu ini menjadi orang nomor satu Jakarta dan Indonesia terus digagalkan oleh mereka yang haus kekuasaan dan sepertinya tak rela mantan pengusaha kayu dari Solo ini selalu memerintah memajukan rakyatnya.