Natalius Pigai Bilang Jokowi Rasis Sama Papua

0
655
Natalius Pigai

Jakarta, NAWACITAPOST-Iriana adalah nama yang diberikan kakeknya saat menjadi guru di Irianjaya (saat ini Papua). Kemudian saat terpilih sebagai Presiden, provinsi yang pertama dikunjungi adalah Papua. Bahkan sudah 12 kali ayah dari Kahiyang Ayu bersama Iriana mengunjungi provinsi berjulukan Bumi Cendrawasih.

Baca Juga : Latar Belakang 7 Milenial Staf Khusus Presiden

Belum lagi Billy Mambraser anak muda Papua yang didapuk sebagai staf khusus milenial Presiden. Juga Lanis Kagoya staf khusus Presiden. Dan masih banyak orang-orang Papua yang sukses dan berhasil di kepolisian, tentara, birokrat dan pengusaha. Di bidang olah raga dan seniman jangan tanya lagi, talenta dari timur Indonesia sudah mewarnai lapangan dan blantika Indonesia. Mereka ini rata-rata masih muda alias milenial.

Jadi sangat aneh terkesan tendensius pernyataan dari Natalius Pigai yang mengaku pembela HAM namun merusak HAM itu sendiri. Seperti yang menyatakan bahwa “Kalau saya orang Papua sudah duga, dia (Presiden Jokowi) rasis dan benci Papua,” ucap Natalius Pigai yang selalu punya pandangan negatif terhadap Presiden Jokowi.

Terkait tanda jasa kehormatan RI Bintang Mahaputetra Nararaya yang dianugerahkan Presiden Jokowi kepada Fadli Zon dan Fahri Hamzah yang kata Pigai hanya sebatas basa-basi.

Tragis sekali pernyataan seorang mantan komisionaris Komnas HAM tak mengetahui tentang hak prerogatif  Presiden. Apalag menyangkut pemilihan menteri. Bukankah pemilihan dan penentuan kabinet adalah sepenuhnya dari orang nomor satu republik ini?

“Saya tetap konsisten pada pendapat, jika Jokowi bukan pendendam dan pembenci, kenapa Fadli Zon dan saya (yang) diusul Pak Prabowo (jadi menteri) tapi Jokowi tolak?” kata Natalius Pigai kepada redaksi yang juga dia posting di akun Twitter @NataliusPigai2, Sabtu (15/8), ujar lulusan dari Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa Yogyakarta pada 1999.

Bahkan Natalius Pigai sebelumnya sudah pernah menyampaikan, dia dan Fadli Zon pernah ditolak Jokowi sebagai calon menteri yang disodorkan Prabowo Subianto. Lebih-lebih dirinya yakin bahwa dia dan Fadli Zon ditolak Jokowi karena alasan benci dan dendam.

Jika ditilik pernyataan Pigai ini sangat berpotensi mengganggu stabilitas keadaan yang sejuk cenderung menjadi panas. Seharusnya kalau dia selalu mengkritik apalagi membenci pemerintah, begitu namanya diusulkan masuk kabinet dia menolak. Jadi siapa yang butuh dan gila jabatan bisa terlihat dengan jelas secara gamblang, pengkritik pemerintah mau jabatan menteri, mungkin hanya mimpi.

Sosok Jokowi yang santun dan selalu merangkul lawan. Prabowo adalah contohnya. Bahkan pembangunan Indonesia di era Jokowi dimulai dan diperbanyak di wilayah Timur. Papua termasuk yang diprioritaskan pembangunan infrastrukturnya.

Sumber Daya Manusia Papua sudah ada yang berada di Istana Negara dengan posisi yang strategis. Parlemen Senayan dan Senator pun wajah-wajah asli Papua yang menempatinya. Jadi pernyataan Pigai tentang Jokowi rasis sekali lagi perlu dipertanyakan karena soal tak dapat jatah menteri dirinya.