Sejumlah wilayah di Indonesia bahkan bisa kehilangan angka harapan hidup yang besar jika kualitas udara tak juga diperbaiki. DKI Jakarta, misalnya, memiliki tingkat polusi enam kali lebih tinggi dari batas yang ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Jika tak diperbaiki, penduduk DKI Jakarta akan kehilangan harapan hidup hingga 4,8 tahun.
Sumatra Selatan menjadi provinsi paling tercemar di Indonesia. Pencemaran udara di Sumsel bisa membuat penduduk kehilangan harapan hidup hingga 5,1 tahun. Sementara tingkat polusi udara di Jawa Barat dan Banten bisa memotong angka harapan hidup hingga 3,5 tahun.
Baca Juga : PLN Siap Jalankan Stimulus Covid-19 untuk Pelanggan Sosial, Bisnis, dan Industri untuk Dukung Pemerintah Pulihkan Ekonomi
Menanggapi hal tersebut, Guru Besar Ilmu Kesehatan Lingkungan Universitas Indonesia, Profesor Budi Haryanto membenarkan bahwa kualitas udara sangat berpengaruh terhadap angka harapan hidup masyarakat. Sekitar 60 persen penyakit kronis dipicu oleh kualitas udara yang buruk.
"[Penyakit yang timbul] lewat hidung itu 60 persen, istilahnya seperti itu," ujar Budi , Rabu (29/7).
Lebih lanjut, Budi mengatakan, kualitas udara menjadi faktor terbesar untuk menjaga kesehatan masyarakat yang jelas sangat berkaitan dengan angka harapan hidup. "Kualitas udara [buruk] bisa berakibat pada penyakit akut maupun kronis," tambah Budi.
Penyakit akut merupakan penyakit yang bisa diatasi dengan cepat (kurang dari 6 bulan). Penyakit akut umumnya terjadi relatif singkat atau menyerang dalam waktu cepat.
Sementara penyakit kronis umumnya terjadi selama lebih dari 6 bulan. Semakin lama, penyakit akan terus berkembang secara perlahan. Tak heran jika penyakit kronis terkadang sulit didiagnosis atau disembuhkan.
"Penyakit akut misalnya ISPA, asma. Kalau penyakit kronis berarti isinya misalnya material bahan kimia, asap kendaraan bermotor, asap industri, memicu penyakit yang sifatnya kronis, menimbulkan komorbiditas, lalu kematian dini atau kematian sebelum waktunya," jelas Budi.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat bahwa sekitar 7 juta kasus kematian di dunia disebabkan oleh polusi udara pada setiap tahunnya. Hal ini jelas menjadi alarm bagi penduduk Bumi untuk tetap waspada pada ancaman kesehatan yang ditimbulkan oleh polusi udara.