Tidak Yakin Anies, Harap Prabowo Berseteru dengan Jokowi

0
455
Jokowi dan Prabowo

Jakarta, NAWACITAPOST- Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014 dan 2019 ada  dua pasangan calon.  2014 Prabowo berpasangan dengan Hatta Radjasa, serta Jokowi dengan Jusuf  Kalla, kemudian tahun 2019 Prabowo Subianto bersama Sandiaga  Uno, serta Jokowi bersama Ma’ruf Amin,  berdasarkan pemilihan langsung  itu dimenangkan Jokowi – Hatta, dan Jokowi – Ma’ruf Amin.

Baca Juga : Jokowi, Pemimpin yang Bisa Merangkul Lawan

Saat 2014 Jokowi tak menyertakan Prabowo di Kabinetnya. Prabowo baru  terlibat bersama Jokowi di 2019 sebagai Menteri Pertahanan. Memasukan nama Prabowo di Kabinet Indonesia Maju bukan perkara mudah, penolakan kencang lantang diucapkan partai koalisi nasional yang mendukung Jokowi – Ma’ruf Amin. Tak berkeringat,  duri dalam daging, serta  partai koalisi tak butuh lagi tambahan partai di gedung Senayan, kian berkumandang kencang terdengar, begitulah mereka menolak Prabowo masuk.

Jokowi pun meyakinkan kepada partai koalisi bahwa masuknya Prabowo dalam kabinet, selain meredam juga ingin menciptakan suasana sejuk  politik kebangsaan,  memang kesejukan  kebangsaan perlu dilakukan,  bukan terjadi lewat kamera atau  sorotan media belaka. Namun, kesungguhan setiap elit negara melakukannya  dengan kata dan perbuatan. Dari sinilah, ada pesan yang ingin disampaikan  mantan Gubernur Jakarta kepada bangsa dan rakyat Indonesia, bahwa merangkul lawan bukan hanya sekedar basa-basi belaka, itu harus dibuktikan dengan segala cara yang konstruktif.

Mantan Walikota Solo ini sadar memang tidak ada jaminan merangkul lawan akan berhenti penghujatan terhadap dirinya. Sayup-sayup bernada miring pun masih terdengar di telinga kakek dari Jan Ethes. Yang jelas, nada itu tak diperintahkan rivalnya di Pilpres. Nampaknya, ada upaya sekelompok orang entah itu dari kelompok  yang menolak dan mendukung Jokowi  untuk memisahkannya dengan Prabowo. Namun, ayah dari Kaesang ini menghadapinya dengan tegar dan kepala tegak, baginya tak ada yang memisahkan  dirinya dengan Prabowo. Apalagi,  Jokowi sangat percaya kepada Prabowo bahwa bukan hanya 5 tahun pertemanan kebangsaannya terjadi, lebih dari itu.

Mungkin saja kelompok  yang menentangnya itu bisa saja selalu mengatas namakan Prabowo, bahkan mereka berupaya menggiring opini untuk memisahkan Jokowi dan Prabowo, bila perlu kelompok ini ingin Jokowi dan Prabowo menjadi seteru. Sangat jelas, dalam politik yang memisahkan atau membuat seteru bisa dilakukan siapa saja, lawan bisa jadi kawan, dan kawan bisa jadi lawan. Kelompok ini, akhirnya hanya bisa gigit jari,  karena ketika Jokowi dihujat, tak membuat dia berpisah dengan Ketua Umum Partai Gerindra, malahan semakin bersatu padu.