Bank Bukopin

Jakarta, NAWACITAPOST-“Empat belas hari yang lalu ada teman lama yang menelpon dan mengajak bertemu. Temanku ini adalah seorang pengusaha yang telah bertahun-tahun menjadi kontraktor PLN. Pada waktu yang sudah ditentukan, kami bertemu di tempat yang tidak jauh dari tempat tinggalku. Temanku datang sendirian dengan menggunakan Mercedez E class nya. Setelah berbincang kesana- sini, temanku menceritakan maksud yang sebenarnya. Dia mau minta tolong pinjam uang untuk kebutuhan dapurnya karena dia tidak dapat menarik uangnya di Bukopin,” begitulah penggalan cerita  dari Roedy SW yang ditulis dalam jaringan media sosialnya.

Baca Juga : Soal Utang , Bank Dunia Percaya Sama Pemerintah Indonesia

Lalu, soal temannya Roedy yang tidak bisa menarik uang di Bank Bukopin kok bisa terjadi? Usut punya usut, entah itu benar atau tidak,  ternyata itu terjadi ketika ada tangan mantan petinggi di negeri ini yang melakukan penempatan Saham melalui iparnya yang bernama  Muhammad Aksa Mahmud, dan perusahaan itu adalah Bosowa grup.  Berikut rincian saham Bank Bukopin Bosowa Corporindo sebesar 30,00%, Kopelindo (18,09%), Negara RI (11,43%), dan publik (40,48%).

Jejak ini  bisa benar atau tidak, yaitu  sejak Sofyan Basir menjadi dirut PLN, semua vendor dan kontraktor PLN diharuskan buka rekening di Bank Bukopin. Sialnya, pada saat Bukopin bermasalah seperti sekarang ini, dia tidak dapat menarik uangnya. Akibatnya, Bank Bukopin mengalami kesulitan likuiditas diduga karena adanya kredit macet diantaranya di Amanah Finance (AF). AF adalah bagian dari Kalla grup yang merupakan afiliasi dari Bosowa. Sejak tahun 2016 AF berhenti beroperasi dan hanya melakukan penagihan kepada nasabah, sehingga kinerja keuangannya menurun. Tunggakan  AF sejak oktober 2018 sebesar 1,171 Triliun rupiah, tapi anehnya manajemen Bukopin menyebutkan bahwa kredit tersebut lancar.

Baca juga :  Motorola dan Lenovo Dirikan Pabrik di Banten

Masih dari tulisan Roedy,  status kredit belakangan di revisi bersamaan dengan perubahan laporan keuangan Bukopin tahun buku 2015-2017. Revisi laporan keuangan ini juga dipicu masalah berupa temuan penggelembungan pendapatan kartu kredit. Tidak banyak yang tahu, penyajian ulang laporan keuangan itu sekaligus menggeser status kredit Amanah Finance dari lancar menjadi “meragukan” Gara-gara dua persoalan ini, status Bukopin menjadi Bank Dalam Pengawasan Intensif (BDPI) sejak 28 Mei 2018. Hingga akhir Desember 2019, kredit yang dialirkan kepada pihak berrelasi pemegang saham termasuk grup Bosowa dan Kalla mencapai 433 Milliar. Porsi terbesar untuk PT.Haka Sarana Investama (Kalla grup) senilai 149,5 Milliar diikuti PT.Bosowa Berlian Motor senilai 32 Milliar.

Menurut Erwin Aksa, gelontoran kredit Bukopin ke grup Bosowa dan Kalla bersifat komersial dan tidak melewati ambang batas pemberian kredit kepada pihak berrelasi. ” Tidak ada pemegang saham Bukopin yang nyolong kayak century” katanya.

Dan penjelasan Erwin Aksa juga diperkuat  Subhan Aksa, komisaris Bank Bukopin, kredit kepada Amanah Finance sudah lancar, setelah restrukturisasi sekitar satu setengah tahun yang lalu. Amanah setiap bulan menyicil 11-12 milliar, yang sebagian besar adalah pembayaran bunga.

Namun, penjelasan Erwin dan Subhan dibantah OJK ditegaskan pada hasil audit BPK, ketika status BDPI diperpanjang setahun pada 28 Mei 2019, Bukopin belum memiliki kejelasan soal penyelesaian kredit Amanah Finance. Sampai disini siapa yang merasa benar apakah OJK atau tidak.

Tak tinggal diam gerakan Bosowa  pun dilancarkan, dengan meminta bantuan pemerintah untuk menyelamatkan Bukopin. Dan itu juga ditunjukkan dengan langkah Jusuf Kalla menemui Presiden Jokowi dalam kapasitasnya sebagai ketua PMI. Disela-sela pertemuan tersebut disebutkan Jusuf Kalla meminta Presiden Jokowi menolong Bukopin. Sikap Pemerintah, sampai saat ini, belum menunjukkan sikapnya untuk menolong Bank Bukopin seperti yang diminta. Bisa dibilang Bukopin terjerat, siapa yang untung?

Baca juga :  Kang Emil Berduka Cita Atas Gugurnya Ipda Erwin