Istiqlal Tidak Shalat Jum’at Ikuti Instruksi Gubernur

1
94
Istiqlal Tidak Shalat Jum'at Ikuti Instruksi Gubernur

Jakarta,Nawacitapost – Masjid Istiqlal memutuskan menunda pelaksanaan salat Jum’at selama 2 pekan ke depan. Hal itu dilakukan untuk mencegah penyebaran virus Corona (COVID-19) yang semakin masif di DKI Jakarta.

“Kepada seluruh pengurus dan karyawan Masjid Istiqlal, disampaikan bahwa mengingat perkembangan situasi COVID-19 di DKI Jakarta khususnya, dan Instruksi Imam Besar Masjid Istiqlal yang merujuk kepada Keputusan Gubernur DKI Jakarta tanggal 19 Maret 2020 jam 17.50 WB, diputuskan di Masjid Istiqlal tidak melaksanakan salat Jum’at selama dua minggu (dua kali tidak salat Jumat),” ujar Ketua Badan Pelaksana Pengelola Masjid Istiqlal Asep Saepudin dalam keterangan tertulisnya, Kamis (19/3).

Baca Juga : Pemko Padangsidimpuan Berlakukan Metode Belajar Jarak Jauh Untuk Mencegah Covid-19

Meski demikian, masyarakat masih bisa melaksanakan salat zuhur di Masjid Istiqlal sebagai pengganti Salat Jumat namun tidak dilakukan secara berjemaah. Seluruh masjid di DKI Jakarta juga diminta mematuhi instruksi tersebut.

“Diganti dengan salat zuhur masing masing (tidak berjamaah). Seluruh masjid di DKI Jakarta diminta untuk tudak melaksanakan salat Jum’at maupun salat berjamaah harian selama dua minggu ini,” katanya.

Humas Masjid Istiqlal, Abu Hurairah, mengatakan meski tidak menyelenggarakan salat Jum’at, Masjid Istiqlal tetap mengumandangkan azan di setiap waktu salat. Selain itu, jemaah juga masih bisa melaksanakan salat lima waktu di Masjid Istiqlal namun dilakukan tanpa berjemaah.

“Bisa (salat lima waktu), kami tetap azan, kami tetap melayani jemaah, cuma tidak (salat) berjemaah,” kata Abu Hurairah saat dikonfirmasi terpisah.

Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan meminta agar setiap masjid di Jakarta, termasuk Masjid Istiqlal, mematuhi imbauan agar tidak mengatakan salat Jum’at selama dua pekan ke depan. Hal ini, menurut Anies, dilakukan agar penanganan virus Corona (COVID-19) cepat selesai.

“Seruan ini untuk seluruh masjid yang di wilayah DKI, provinsi lain yang tidak memiliki problem seperti Jakarta. Jakarta sekarang episentral, di tempat ini, terjadinya masif angka pertumbuhan yang paling tinggi, di sini fatwa MUI bisa diterapkan,” ucapnya.

Comments are closed.