Ekonomi Indonesia tahun 2020

13
669
Jakarta, NAWACITA - Hingga November 2019 penerimaan perpajakan mencapai Rp 1.312,4 triliun. Angka itu hanya mencapai 73,5% dari target yang ditetapkan dalam APBN 2019 sebesar Rp 1.786,4 triliun.
Ekonomi Indonesia tahun 2020

Jakarta, NAWACITA – Hingga November 2019 penerimaan perpajakan mencapai Rp 1.312,4 triliun. Angka itu hanya mencapai 73,5% dari target yang ditetapkan dalam APBN 2019 sebesar Rp 1.786,4 triliun. Dampak yang sedikit mengkawatirkan adalah membengkaknya keseimbangan primer mencapai 503% dari target APBN 2019 sebesar Rp. 20,11 Triliun. November tahun ini keseimbangan primer mencapai Rp 101,31 triliun. Tahu artinya apa ? Penerimaan dikurangi belanja, tidak termasuk komponen pembayaran bunga utang, mengalami defisit sebesar Rp. 101,31 triliun. Dengan demikian, pemerintah harus menarik utang untuk bayar utang. Kalau engga ? kita bisa terancam default surat utang. Ini berbahaya.

Baca Juga: Presiden Palestina Mahmoud Abbas Ikut Misa Natal di Betlehem

Makanya tahun ini pemerintah harus menambah utang lagi. Sampai akhir November tahun ini jumlahnya tembus Rp 4.814,31 triliun atau lebih tinggi dari posisi bulan sebelumnya yang mencapai Rp Rp 4.756,13 triliun. Itu artinya tembus diatas 30% rasio utang terhadap PDB. Ini kali pertama selama Jokowi jadi Presiden. Bagi pasar uang yang selalu memantau performance APBN, melebarnya defisit primer ini akan memberikan sentimen negatif terhadap SBN. Karena utang tidak hanya dipakai untuk meningkatkan kemampuan fiskal saja tetapi juga dipakai untuk bayar utang. Pasar ingin tahu apa langkah yang akan dilakukan pemerintah menjaga keseimbangan primer.

Ternyata udah dipersiapkan dengan baik dampak dari berkurangnya penerimaan pajak itu. Yaitu tahun depan pemerintah akan naikan tarif beberapa komponen, mulai dari kenaikan harga rokok, tarif listrik, parkir, harga plastik, toll, iuran BPJS, pajak belanja online, hingga kenaikan tarif ojek online. Rokok misalnya, rata-rata kenaikan pada tahun depan bisa mencapai 23% untuk tarif cukai. Otomatis, kenaikan tarif cukai rokok ini berimbas pada naiknya harga jual rokok yang diperkirakan sebesar 35%. Selanjutnya adalah tarif listrik. Pemerintah telah menyetujui pemangkasan subsidi listrik untuk pelanggan 900 VA rumah tangga mampu (RTM). Pencabutan subsidi ini dilakukan mulai tahun 2020.

Baca Juga: Komitmen China sebagai Keniscayaan

Harga selembar plastik juga tak ketinggalan. Tarif cukai produk ini diusulkan sebesar Rp 30.000 per kilogram, di mana untuk per lembar tarif cukai akan dikenakan Rp 200. Kalau plastik naik maka semua produk bahan baku platik juga naik. BPJS non PBI juga naik. Untuk Kelas 3: naik dari Rp25.500 menjadi Rp42.000 per jiwa; Kelas 2: naik dari Rp51.000 menjadi Rp110.000 per jiwa; Kelas 1: naik dari Rp80.000 menjadi Rp160.000 per jiwa.

Jadi, tahun depan adalah tahun tahun berat bagi pemerintah dan kita harus mendukung itu agar ekonomi tetap on tract. Semoga situasi politik tetap kondusif sehingga kita bisa selamat berselancar di tengah badai krisis…Investasi China di proyek OBOR sangat diharapkan dapat terealisir segera sehingga bisa mendorong investasi dan mengamankan pertumbuhan ekonomi diatas inflasi. Tolong juga kepada pejabat pemerintah pusat maupun Daerah dan Anggota DPR/D, udahan dech korup nya. Kasihan rakyat terus dibebani akibat korupsi. Andaikan negeri ini bersih dari korupsi, rakyat engga perlu menanggung kenaikan harga terus menerus.

Erizeli JB (Pecinta Kebijaksanaan)

Comments are closed.