Proxy AS dalam Bungkusan “Khilafah”

2
147
Jakarta, NAWAACITA - Tahun 2002 AS meminta kepada Presiden Megawati agar menyerahkan Abu Bakar Ba’asyir (ABB). Maklum bagi AS , Abu Bakar Ba’asyir adalah gembong teroris yang paling dicari.
Proxy AS dalam Bungkusan "Khilafah"

Jakarta, NAWACITA – Tahun 2002 AS meminta kepada Presiden Megawati agar menyerahkan Abu Bakar Ba’asyir (ABB). Maklum bagi AS , Abu Bakar Ba’asyir adalah gembong teroris yang paling dicari. Terutama dengan adanya bom Bali dimana banyak warga AS yang meninggal. Penjara terseram dan terburuk HAM sudah disiapkan oleh AS untuk Abu Bakar Ba’asyir di Guantanamo. Tetapi permintaan AS itu ditolak keras oleh Megawati. Padahal saat itu Indonesia butuh dukungan politik dari AS dalam perundingan dengan IMF dalam rangka pemulihan ekonomi. Semua team ekonomi Megawati menyarankan agar tidak perlu melawan kehendak AS.

Baca Juga: Isu Uighur Sulap Xinjiang jadi Objek Wisata

ABB bukan siapa siapa. Dan lagi ABB sudah siap dengan segala resikonya ketika dia berjuang dengan caranya untuk mendirikan khilafah. Tapi tidak ada satupun yang bisa meyakinkan Megawati agar Abu Bakar Ba’asyir dibiarkan diambil oleh AS dan mati membusuk di Guantanamo. Megawati tetap dengan prinsipnya. ABB adalah warga negara Indonesia. Negara harus melindungi warga negaranya, dan presiden harus bertanggung jawab soal itu. Hanya hukum Indonesia yang berhak mengadili ABB, bukan negara lain. Ketika team Delta AS mendarat di Halim, Polri dan TNI dengan tegas memaksa Team Delta harus kembali ke AS. Kisah ini tidak banyak orang tahu.

Dalam wawancara dengan Pojoksatu, Mega Simarmata mendapatkan pengakuan dari ABB, soal sikap Megawati itu. “ “Amerika pernah meminta secara khusus kepada Presiden Megawati Soekarnoputri agar saya ditangkap. Tetapi yang namanya Megawati mendapat kekuatan dari Allah untuk menolak permintaan Amerika yang arogan itu. Namun menurut saya, pemerintahan Yudhoyono ini adalah pemerintahan yang tunduk kepada kepentingan dan tekanan Amerika.”

Tidak ada pemimpin di dunia ini yang berani melawan aroganis AS. Apalagi UU Patriot Act AS memberikan hak kepada pasukan AS melakukan apa saja memburu pelaku teroris termasuk di negara lain. Dalam UU Patriot Act , tidak ada pasal yang mengakui legitimasi negara lain, kecuali legitimasi AS untuk berperang di mana saja melawan teroris. Seharusnya ini dicatat dengan baik bahwa kita pernah punya presiden Wanita yang berani melawan AS.

Baca Juga: Ibu Kota Baru, baru Ibu Kota

Tetapi belakangan AS berada dibalik keberadaan ISIS, yang membawa bendara Islam namun memproduksi dan mengekspor aksi teror di Irak, Suriah, Yaman dan bahkan sampai ke Philipina dan Indonesia. Hanya karena alasan politik adu domba islam, ISIS di create. Dalam pembersihan kantong ISIS oleh pasukan Suriah, ternyata ditemukan senjata buatan Israel dan NATO. Ini fakta bahwa AS ada dibalik ISIS. Bukan hanya ISIS, AS juga menjalin kekuatan di negara islam lewat proxy nya yang terhubung dengan gerakan khilafah dan Wahabi. Tujuannya tak lain agar kekuatan islam menjadi lemah, dan pengaruh AS lebih mudah mendikte penguasa negara tersebut. Tapi kini itu sudah disadari oleh banyak negara terutama negara yang mayoritas islam. Ada 36 negara yang sebagian besar negara yang berpenduduk mayoritas Islam mendukung China menyelesaikan masalah entnis Uyrghu.

Di Indonesia bertahun tahun kelompok HTI, JAT dan lain lain, menolak keras bahwa mereka adalah proxy AS. Tetapi dengan kasus Uighur, kecaman keras kepada China, mereka membuka kedok mereka sendiri yang selama ini berusaha mereka sembunyikan di balik bendera Tauhid. Bahwa mereka adalah bagian dari proxy AS, untuk tujuan hegemoni AS. China adalah negara yang berani melawan AS, dan tentu juga adalah musuh bagi proxy AS.

Musuh bangsa Indonesia bukan China, tetapi adalah AS yang tak henti ingin menguasai negara lain lewat proxy nya. Dan para proxy itu menjual jiwanya karena uang. Tidak ada kaitannya dengan agama. Sementara bangsa ini terancam persatuannya dan rakyatnya disuruh mati sia sia dalam aksi teroris. Kita bersyukur, bahwa NU digaris depan menentang gerakan proxy AS itu di Indonesia. Bahkan Muhamamdiah walau dipaksa oleh Dubes AS untuk mengecam China, tetapi Muhammadyah bisa bersikap tegas, menolak tekanan AS.

China tidak punya Muhammadiah dan NU namun China punya partai komunis yang tahu pasti AS sebagai musuh mereka dan bersiap melawan demi melindungi eksitensi negaranya.

Erizeli JB (Pecinta Kebijaksanaan)

Comments are closed.