Ibu Kota Baru, baru Ibu Kota

8
408
Jakarta, NAWACITA - Rencana ibukota RI tahun 2020 sudah mulai dikerjakan. Tata ruang Kota dirancang sebagai forest city atau green city. Di kota ini ada 4 kawasan wilayah, dengan total luas 80.000 hektar. Satu, zona pusat pemerintahan, Dua, zona ibu kota negara, Ketiga, zona IKN yang menjadi lokasi konservasi.
Ibu Kota Baru, baru Ibu Kota

Jakarta, NAWACITA – Rencana ibukota RI tahun 2020 sudah mulai dikerjakan. Tata ruang Kota dirancang sebagai forest city atau green city. Di kota ini ada 4 kawasan wilayah, dengan total luas 80.000 hektar. Satu, zona pusat pemerintahan, Dua, zona ibu kota negara, Ketiga, zona IKN yang menjadi lokasi konservasi. Ke empat, zona tempat tinggal dan pusat sarana publik. Kota ini juga dilengkapi dengan IT system sehingga layak disebut dengan smart city. Setiap rumah terhubung dengan security sytem aparat kepolisian. Tidak ada ruang publik yang tidak terjangkau CCTV. Sehingga sekecil apapun gangguan dapat segera diantisipasi. Begitupula penggunaan listrik dan air di kelola menggunakan IT system. Sehingga efisiensi nya sangat tinggi.

Baca Juga: Rugikan Negara 13,7 Triliun, Kejagung Segera Pastikan Pelaku Korupsi PT. Jiwasraya

Tata letak antar zona dibuat sedemikian rupa sehingga kesan sebagai green city tetap terjaga. Hubungan antara zona dirancang yang memungkinkan koneksi antar zone terjadi secara harmoni. Sehingga kota nampak beautiful dan friendly terhadap komunitasnya yang diperkirakan berjumlah 1,5 juta orang. Pasti tidak akan ada banjir karena sistem drainase dirancang lebih dulu sebelum bangunan didirikan. Tidak akan ada kemacetan. Karena traffic kota dirancang secara IT, yang bebas macet dengan dukungan infrastruktur baik jalan raya maupun LRT yang membelah kota. Sehingga darimanapun orang bepergian, akan cepat sampai ditujuan. Tidak akan ada rumah kumuh sebagai sumber penyakit sosial. Listri kota menggunakan listri ramah linkungan. Di kota inilah akan akan berdiri istana Presiden RI berserta semua kantor kementerian, termasuk lembaga tinggi negara.

Rencana pemerintah untuk membangun ibukota Baru ini disikapi dengan begitu antusias oleh anggota REI. Mengapa ? Beberapa anggota REI sepeti Ciputra, Agung Podomoro ( PIK dan Pluit) Sinar Mas Grup ( BSD). Gunung Sewu group ( Alam Sutra), Lippo, Bakrie, dan lain lain sudah berpengalaman membangun kota baru. Mereka kaya raya sebagai developer kota baru. Mengapa mereka antusias? karena dari total Rp 446 triliun anggaran membangun ibu kota itu, hanya sebesar Rp. 30 triliun berasal dari APBN. Itupun dibayar selama lima tahun. Dana ini untuk membangun infrastruktur dasar seperti Bandara, pembangkit listri, backbone IT dan telekomunikasi, water supply ( PDAM). Sisanya berasal dari Swasta dengan skema Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) dan skema Kerjasama Pemanfaatan (KSP).

Baca Juga: RUU Omnibus Law Harus Segera Disahkan, Bila Tidak?

Bagaimana swasta tertarik? Pemerintah menyediakan payung hukum yang jelas atas lahan dan skema KPBU maupun KSP. Tidak ada Pilkada di kota ini untuk mengganti kepala daerah. Karena kota dipimpin oleh Badan Otorita yang langsung dibawah presiden. Dan pemimpinnya adalah orang profesional bukan partisan. Pemerintah menyediakan captive market kepada Swasta dimana skema KPBU diterapkan untuk membangun Rumah dinas PNS dan TNI/POLRI untuk 200.000 unit rumah. Pembiayaan ini akan mencapai Rp 340,6 triliun. Sementara, melalui skema KSP akan diterapkan untuk pembangunan perguruan tinggi, fasilitas kesehatan mall,pusat komersial, office tower untuk perusahaan swasta, yang nilainya mencapai Rp 95 triliun. Dari skema ini pemerintah akan menerima pendapatan negara bukan pajak (PNBP) puluhan triliun. Jadi praktis kalau dipotong biaya APBN Rp. 30 triliun , ya pemerintah untung. Smart kan. Itulah Jokowi.

Sebagai negara dengan populasi diatas 250 juta orang, dan nomor empat terbesar di dunia, sudah seharusnya Indonesia punya ibu kota yang representatif, modern. Karena ini menyangkut kehormatan bangsa dan negara di mata dunia. Setelah sekian puluh tahun Indonesia merdeka, di era Jokowi, kehormatan bangsa dan negara bukan hanya dalam bentuk retorika tetapi diujudkan dalam bentuk proyek raksasa, dengan skema gotong royong. Semoga!

Erizeli JB (Pecinta Kebijaksanaan)

Comments are closed.