Guru Honorer Madrasah Ibtidaiyah di gaji Rp175.000 per Bulan

0
90
Guru Honorer Madrasah Ibtidaiyah di gaji Rp175.000 per Bulan

NAWACITA- Guru honorer harus berjuang untuk bertahan hidup di tengah kenaikan segala kebutuhan. Meski sejumlah provinsi telah mengetuk Upah Minimum Regional (UMR), ternyata masih banyak guru yang gajinya pendidik jauh dari UMR.

Jangankan untuk kebutuhan lainnya, gaji itu bahkan tak cukup untuk menanggung kebutuhan makan sehari-hari. Merekapun harus mencari alternatif pemasukan lain supaya dapur rumah tetap bisa mengepul.

Salah seorang guru Madrasah Ibtidaiyah di Bojonegoro bernama Ahmad Yunus, menyebut hanya digaji Rp175 ribu per bulannya.

“Saya guru honorer di Madrasah Ibtidaiyah swasta, per bulannya Rp175 ribu. Itupun tidak rutin dibayar per bulannya,” katanya.

Baca Juga : NasDem : Pilpres 2019 Telah Usai, Mari Saling Bekerja Sama

Yunus sadar, sebagai seorang guru tanggung jawabnya tak kecil karena mengajar dan mendidik puluhan siswa bukan hal yang mudah. Terlebih ia juga harus menghidupi sang istri.

“Ibarat kata dapur harus terus mengebul, makanya harus mencari sampingan. Di luar mengajar di sekolah, saya punya lembaga bimbel (bimbingan belajar) di rumah,” jelasnya.

Menurutnya, lembaga bimbel inilah yang mampu ‘menyokong’ perekonomian keluarganya. “Di lembaga Bimbel ini kita ada tiga tentor, termasuk saya. Per orang mendapat tambahan Rp300 ribu. Ya lumayan untuk menghidupi keluarga,” ucapnya.

Mengajar bimbel ini dilakukan Yunus sepulang sekolah setiap hari Senin sampai Kamis pada malam hari. “Lesnya malam hari, yang ikut sekitar 25 siswa SD dan MI,” ungkap pria yang mengajar di salah satu Madrasah Ibtidaiyah swasta di Sukosewu, Kabupaten Bojonegoro.

Mencari pemasukan tambahan bagi guru juga dirasakan Novia Fatimatun. Guru di tingkat Taman Kanak-Kanak di sebuah desa di Kecamatan Kalianyar, Bojonegoro ini per bulannya hanya mendapat gaji Rp200 ribu.

Demi menambah pemasukan keluarga, ia sempat berjualan pakaian secara online. “Berjualan online, tapi sama suami disuruh berhenti saja daripada tidak fokus,” kata dia.

Ia menambahkan, meski dirinya telah mendapat tunjangan bagi guru memiliki Nomor Unik Pendidik dan Tenaga Pendidikan (NUPTK) sebagai data pokok guru di Indonesia, tunjangan itu hanya dicairkan setahun sekali dengan jumlah Rp2,4 juta.

“Ya dicukup-cukupkan, yang penting suami berpenghasilan meski tak banyak,” ucapnya.

Ia mengaku harus pintar mengatur keugangan agar bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Penghasilan jauh di bawah UMR juga dirasakan Dini, seorang guru asal Kecamatan Durenan, Kabupaten Trenggalek. Dini yang mengajar ratusan murid sebuah sekolah dasar di Kecamatan Durenan hanya digaji Rp150 ribu per bulan.

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here