BPIP: Rekonsiliasi antar Elit, Penangkal Keterpecahan di Masyarakat

13
176

Jakarta, NAWACITA – Anggota Satuan Tugas Khusus Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Romo Benny Susetyo, meyakini bangsa Indonesia tidak akan terpecah meski mengalami polarisasi akibat kontestasi demokrasi pada Pemilu 2019.

Munculnya dua kubu pendukung capres pada pilpres 2019, dengan sebutan “Cebong” dan “Kampret”, hampir menimbulkan gap antar kelompok di masyarakat. Untunglah bahwa seteru tersebut disadari oleh pendukung kedua kubu sebagai dinamika dalam politik yang sifatnya sementara.

Menurut Romo Benny, Pancasila menjadi modal ideologi bagi bangsa Indonesia.

“Hampir 8 bulan kampanye dipenuhi oleh hoaks, bahkan sampai beberapa minggu sesudahnya, isu kebencian terus beredar. Namun, gerakan massa pendukung mulai mereda setelah terbitnya putusan MK pada 27 Juni 2019 yang lalu”

Realitas di atas menunjukkan bahwa masyarakat mampu mengendalikan situasi chaos tersebut. Itulah mengapa Pancasila menjadi jiwa raga bangsa ini. Kalau tanpa Pancasila kita bisa terpecah belah,” ujar Romo Benny di D’consulate, Jalan Wahid Hasyim, Jakarta Pusat.

Masyarakat mampu menghadapi gelombang hoaks karena mampu mengelola kemajemukan. Indonesia tidak akan terpecah belah seperti Arab Spring dan Suriah yang mengalami perang saudara. Indonesia sejak awal sudah hidup dalam asas persaudaraan dan multikultur.

Penegasan ini juga terjadi dalam pertemuan eksklusif Jokowi dan Prabowo di Stasiun MRT Senayan, pada Sabtu 13 Juli 2019. Presiden menggarisbawahi pernyataannya, “Tidak ada lagi yang namanya 01dan 02. Tidak ada lagi yang namanya cebong dan  kampret. Yang ada adalah Garuda. Garuda Pancasila.

Meski begitu, Romo Benny berharap para elit yang berseberangan untuk melakukan rekonsiliasi. Karena hanya hal ini yang mampu menghentikan riak yang terjadi di masyarakat. “Kalau masyarakat damai-damai saja, yang perang kan elit. Masyarakat bawah gak ada masalah. Butuh kedewasaan elit,” kata Romo Benny.

Comments are closed.