Menhub : Pelabuhan Marunda Harus Tetap Berjalan

97
195

Jakarta, NAWACITA- Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi,menginginkan proses pembangunan Pelabuhan Marunda dapat terus berjalan guna menopang kegiatan kegiatan perekonomian di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara.

“Harapan saya tetap berjalan, supaya tidak ada stagnan,” ujar Budi Karya di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (19/6).

Budi menilai, keberadaan Pelabuhan Marunda dapat melayani bongkar-muat produk curah seperti batu bara dan komoditas cair. Ia pun menerangkan, Pelabuhan Marunda mampu mengurangi aktivitas di Tanjung Priok, yang dianggap sudah terlalu padat.

“Ini dapat mengurangi tekanan terhadap Tanjung Priok,” ucapnya.

Menurut dia, agar pembangunan Pelabuhan Marunda tidak berhenti, perlu adanya rekonsiliasi antara pemegang saham yang saat ini sedang dalam proses peradilan.

“Pelabuhan tetap berjalan. Kami nunggu keputusan dari pengadilan saja. Harapan saya ada rekonsiliasi di antara mereka, ada take and give,” ucap Budi.

Sekadar diketahui, Pelabuhan Marunda dioperasikan oleh PT Karya Citra Nusantara (KCN) yang merupakan anak perusahaan dari PT Kawasan Berikat Nasional (KBN) dan PT Karya Tekhnik Utama (KTU).

Pembangunan Pelabuhan Marunda kini menuai polemik berlarut-larut. Hal ini bermula saat KTU memenangkan tender pengembangan kawasan Marunda yang digelar KBN pada 2004.

Setahun kemudian, KTU dan KBN bersepakat membentuk anak perusahaan dengan restu Kementerian BUMN dan Gubernur DKI Jakarta dengan komposisi saham KBN 15% berupa goodwill yang tidak akan terdelusi dan KTU 85%. Proyek pembangunan infrastruktur tol laut KCN dari awal disepakati non APBN/APBD.

Masalah muncul setelah pergantian direksi pada November 2012 usai Posisi Direktur Utama beralih dari Rahardjo ke Sattar Taba. KBN meminta revisi komposisi saham yang akhirnya disepakati menjadi 50:50, Namun KBN tak mampu menyetor modal hingga batas waktu yang ditentukan karena ternyata tidak diizinkan oleh Kementerian BUMN dan Pemda DKI Jakarta sebagai pemilik saham KBN.

Kejadian setelahnya, KBN malah tetap menganggap memiliki saham 50% di KCN. Tak hanya itu, KBN juga mengirimkan surat penghentian pembangunan pelabuhan marunda kepada KCN dan berlanjut pada gugatan perdata ke pengadilan untuk membatalkan konsesi.

 

Comments are closed.