Puisi Bunga Flamboyan dan Cerita Cinta SBY – Ani Yudhoyono

12
520

Jakarta,NAWACITA- Istri Presiden keenam Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Kristiani Herrawati atau Ani Yudhoyono meninggal di National University Hospital Singapura pada Sabtu, 1 Juni 2019. Ani meninggal di usia 67 tahun.

Ibu dari Agus Harimurti Yudhoyono dan Edhie Baskoro Yudhoyono ini meninggal setelah dirawat di Singapura akibat kanker darah pada Februari 2019. Sejak saat itu, SBY pun meninggalkan aktivitas politiknya di Jakarta. Ia selalu menemani Ani Yudhoyono di NUH Singapura.

Momen kebersamaan mereka sering dibagikan oleh anak dan menantunya, juga oleh Ani Yudhoyono sendiri di media sosial. Kisah cinta mereka terekam dari buku biografi Ani Yudhoyono berjudul “Kepak Sayap Putri Prajurit (2010)” yang ditulis Alberthiene Endah.

Dalam biografi itu dijelaskan perkenalan keduanya berawal ketika Ani Yudhono yang merupakan putri Gubernur AKABRI, Letnan Jenderal (Purn) Sarwo Edhie Wibowo , sering mengikuti acara-acara resmi.

Saat itu awal 1973, libur kuliah tiba, Ani mengikuti acara peresmian barak taruna di Magelang. Di sanalah ia kagum dengan sosok laki-laki yang gagah dan bertubuh jangkung.

Esoknya, pemuda tersebut datang ke rumah Ani. Pertemuan tersebut membuat Ani terpana, jarak yang dekat membuat Ani bisa menganalisis wajahnya yang tampan. Saat itulah, mereka berkenalan.

Pertemuan tersebut membuat Ani grogi. Dia mengintip pertemuan ayahnya dengan SBY. Diam-diam, Ani mengagumi sosok SBY.

“Dia memiliki tubuh atletis, langsing, sorot matanya juga teduh. Sikapnya tenang, tutur katanya sopan, teratur, dan terkonsep. Sosok taruna itu sangat menarik, saat itu terasa getaran hatiku,” kata Ani.

Sejak mengungkapkan cinta, Ani dan SBY rajin berkirim surat. Tiap mendengar suara tukang pos, Ani berlari secepat kilat mengambil surat. Menurutnya, surat-surat SBY selalu membuat Ani melayang.

“Melalui surat kami saling mencurahkan hati, saling menceritakan kondisi dan latar belakang kami,” kata dia.

Menurut Ani, SBY bukan pemuda yang suka menghamburkan kata-kata cinta, tetapi laki-laki yang menyukai ungkapan simbol penuh makna. SBY sering mengungkapkan dalam bentuk puisi.

Salah satu puisi yang paling membuat Ani berkesan yakni berjudul Flamboyan. Puisi tersebut berisi perasaan prajurit yang tersentuh bunga Flamboyan yang tumbuh di kampus.

“Yang membuat ku berkesan, SBY memanggilku dengan sebutan Jeng Ani. Buatku itu panggilan yang mesra dan indah. Aku sangat menikmati panggilan sayang itu,” kata Ani.

Nampaknya, sang ayah menangkap getaran keseriusan antara Ani dan SBY. Dia secara terang-terangan merestui hubungan mereka. Tahun 1974, Sarwo Edhie Wibowo ditugaskan menjadi duta besar di Korea Selatan. Saat itu, hati Ani bergemuruh karena harus berpisah dengan pujaan hatinya, SBY.

Ayah Ani menangkap kegelisahan putrinya, dia menyarankan agar Ani bertunangan dengan SBY sebelum terbang ke Seoul. “Ternyata tanpa sepengetahuan aku, saat SBY diwisuda menjadi perwira terbaik AKABRI 1973, orangtua SBY sudah melamar, sungguh aku terharu,” katanya.

Perpisahan dengan SBY sempat membuat Ani menangis. Antara sedih harus berpisah dan terharu karena akhirnya dipersatukan lewat tunangan.

Selama 1,5 tahun berpisah dengan SBY, membuat Ani rindu dan ragu. Kerinduan yang hebat membuat Ani menangis, dia takut jarak dan waktu akan membuat perasaan SBY berubah. Keraguan Ani terjawab saat sepucuk surat SBY dikirimkan khusus untuk Papi.(Sumber: Tempo.co.id)

 

 

Comments are closed.