Pileg Kalah Gaung dengan Pilpres, Firman Soebagyo Usul Evaluasi UU Pemilu

8
238
Anggota Komisi II DPR RI dari Fraksi Partai Golkar, Firman Soebagyo.

Jakarta NAWACITA – Politikus Partai Golongan Karya (Golkar), Firman Soebagyo menilai bahwa pada saat ini proses tahapan Pemilu Legislatif (Pileg) sudah kalah gaung dengan tahapan Pemilu Presiden (Pilpres) yang jauh lebih menonjol.

Menurutnya, fenomena seperti ini akan sangat mengganggu sistem kepemiluan legislatif khususnya. Pasalnya, keberadaan Pileg saat ini sudah sangat tidak diperhatikan baik oleh masyarakat maupun dari media massa, baik cetak maupun elektronik.

“Banyak media massa sudah tidak tertarik untuk mengekspos atau memuat berita-berita soal Pileg, khususnya caleg (calon anggota legislatif). Ini kemunduran. Padahal Pileg tidak kalah penting dari Pilpres,” kata Firman di Gedung DPR RI, Jakarta, Selasa (26/3/2019).

Pria yang tengah menjabat sebagai Anggota Komisi II DPR RI ini pun mengingatkan, bahwa Pileg itu sangat penting untuk diperhatikan oleh masyarakat, para caleg yang terpilih nantinya akan mewakili suara masyarakat di parlemen.

Dan apabila hal ini tidak digaungkan, maka masyarakat tidak akan tahu siapa calon wakilnya yang baik dan mempunyai visi-misi yang jelas, untuk memperjuangkan hak rakyat. Jangan sampai rakyat malah memilih orang yang salah, karena semakin pragmatisnya masyarakat.

“Ketika tidak terpublikasi dengan baik, maka kemungkinan masyarakat saat pemilihan akan mendapatkan wakil rakyat yang asal-asalan, karena beli kucing dalam karung. Ini sangat bahaya,” terang mantan Wakil Ketua Badan Legislatif (Baleg) DPR RI ini.

Oleh karena itu Firman merasa menyesal dengan pelaksanaan Pemilu serentak saat ini, akibat dari Undang-Undang (UU) Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum yang merupakan inisatif pemerintah dan juga dibentuk oleh DPR RI.

Pasalnya, para caleg yang maju di Pileg saat ini sudah terbawa arus Pilpres, dengan membela pasangan calon presiden dan calon wakil presiden (capres-cawapres) usungan partai politik (parpol) mereka, ketimbang mensosialisasikan program mereka sendiri bersama parpol.

“Saat ini kita sudah melihat fenomena caleg-caleg sekarang yang sudah terbawa arus, dan tidak peduli akan Pileg, dan lebih bersemangat untuk membela capres masing-masing. Ini semakin membuat sistem Pemilu kita sudah sedemikian memprihatinkan,” sesal Firman.

Untuk itu, sebagai politisi senior maupun caleg Partai Golkar untuk daerah pemilihan (dapil) Jawa Tengah (Jateng) 3, Firman mendorong agar bisa dilakukan evaluasi dan revisi terhadap UU Pemilu, dengan tidak menggabungkan lagi Pileg dan Pilpres secara serentak.

“Kalau kita mau buat Pemilu yang lebih baik dan berkualitas, hendaknya harus dipisah. Pileg serentak lebih dulu untuk mendapatkan wakil rakyat yang berkualitas. Setelah itu baru pemilu eksekutif serentak, pemilukada kota/kabupaten, provinsi, dan pilpres, untuk memilih sosok pemimpin,” tegas dia.

Comments are closed.