Ketum PBNU Tegaskan Islam Nusantara Bukan Mazhab

38
100

Banjar NAWACITA – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siroj menceritakan tentang masuknya agama Islam ke dalam kebudayaan Indonesia. Hal tersebut disampaikan Said Aqil saat membuka pembahasan konsep Islam Nusantara di Komisi Bahtsul Masail Maudluiyah dalam Musyawarah Nasional Alim Ulama, Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar, Kota Banjar, Jawa Barat, Kamis (28/2).

Said mencontohkan, seperti dalam tradisi larungan atau syukuran laut maupun penggunaan beduk untuk penanda waktu salat.

“Beduk itu tadinya kan alat musik, kemudian diterima oleh para alim ulama kegunaannya diganti, untuk memanggil waktu salat,” tuturnya.
Said mengatakan bahwa Islam Nusantara bukan mazhab, aliran, atau sekte baru yang berkembang di Indonesia. Said menjelaskan, Islam Nusantara pertama kali disampaikan saat Muhtamar NU di Jomang, Jawa Timur, pada 2015 lalu.

“Saya menyampaikan bahwa Islam Nusantara bukan mazhab, bukan aliran, bukan sekte. Tetapi hanya tipologi Islam kita orang nusantara,” kata Said
Puncak Islam Nusantara, dijelaskan Said, adalah ‘hubbul wathon minal iman’, fatwa yang disampaikan oleh KH Hasyim Asy’ari ketika mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Menurut dia, para ulama di dunia tak ada yang mengenal istilah ‘hubbul wathon minal iman’.

“Islam harus menyatu dengan nasionalisme, nasionalisme harus diberi spirit dengan Islam,” kata Said.

Sementara pada pembahasan konsep Islam Nusantara tersebut, beberapa perwakilan pengurus PWNU dari sejumlah wilayah seperti Sulawesi Selatan, Lampung, Banten, hingga Jawa Timur menyampaikan pandangannya. Setelah itu, kemudian disepakati pengertian Islam Nusantara secara substansi.

Sekretaris Lembaga Bahtsul Masail PWNU Jawa Timur Ustaz Ahmad Muntaha mengungkapkan, Islam Nusantara dalam pengertian substansial adalah Islam ahlisunnah waljamaah yang diamalkan, didakwahkan, dan dikembangkan sesuai karakteristik masyarakat dan budaya di Nusantara oleh para pendakwahnya.

Pengertian Islam Nusantara itu lantas disepakati dalam forum Komisi Bahtsul Masail Maudluiyah.

Usia pengesahan, Said mengatakan bahwa seluruh pengurus NU dari pusat sampai ranting harus memahami pengertian Islam Nusantara. Said kembali menegaskan bahwa Islam Nusantara bukan lah paham aliran, sekte, atau mazhab baru yang dikembangkan di Indonesia.

“Tapi Islam yang menghormati budaya, menghormati tradisi yang ada selama tidak bertentangan dengan syariat Islam,” kata Said.

Comments are closed.