15.132 Kasus DBD di Indonesia 145 Meninggal

3
116

Jakarta NAWACITA – Kasus DBD (demam berdarah dengue) marak di berbagai daerah.
Data Kementerian Kesehatan, terhitung sejak awal Januari 2019 hingga 31 Januari, jumlah kasus DBD mencapai 15.132 kasus. Dari jumlah itu sebanyak 145 kasus menyebabkan kematian.

Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Kementerian Kesehatan Widyawati mengatakan, hingga saat ini kasus DBD terjadi di 390 kabupaten/kota di 33 provinsi. Sebanyak dan 269 kota/kabupaten di antaranya melaporkan adanya peningkatan kasus.

“Provinsi yang tinggi angkanya adalah Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, NTT, Sulawesi Utara dan Lampung,” kata Widyawati di Jakarta, Kamis (31/1).

Ia menjelaskan, di Jawa Timur, 37 dari 38 kabupaten/kota melaporkan kasus DBD dan 21 kabupaten/kota melaporkan peningkatan kasus penyakit yang menular melalui gigitan nyamuk itu.

Sementara di Jawa Barat, sebanyak 27 kabupaten/kota juga melaporkan kejadian DBD dan 25 kabupaten/kota melaporkan adanya peningkatan kasus. DI Jawa Tengah, ada 25 dari 34 kabupaten/kotanya menghadapi kasus DBD dan 28 kabupaten/kota melaporkan adanya peningkatan kasus.

Nusa Tenggara Timur sebanyak 20 dari 22 kabupaten/kotanya juga melaporkan kasus DBD dan 19 kabupaten/kota menghadapi peningkatan kasus.

Di Sulawesi Utara, 15 kabupaten/kota yang ada semuanya melaporkan adanya kasus DBD. Seluruh kabupaten/kota di Lampung, yang jumlahnya 14, juga melaporkan kasus DBD dan 14 di antaranya menghadapi peningkatan jumlah kasus.

Selain itu beberapa daerah yang menghadapi kejadian luar biasa penularan DBD, termasuk Kota Kupang, Kabupaten Manggarai Barat, Kabupaten Ponorogo, dan Provinsi Sulawesi Selatan.

Widyawati menerangkan, kasus DBD meningkat karena nyamuk penular virus dengue biasanya berkembang selama musim penghujan, karenanya Widyawati mengimbau warga selalu menjaga kebersihan lingkungan.

Peran masyarakat sangat penting dalam upaya memberantas sarang nyamuk penular DBD melalui gerakan 3M Plus: Menguras tempat yang sering dijadikan tempat penampungan air seperti bak mandi, ember air, tempat penampungan air minum, penampung air lemari es dan lain-lain; Menutup rapat-rapat tempat-tempat penampungan air seperti drum, kendi, toren air, dan lain sebagainya; dan Memanfaatkan kembali atau mendaur ulang barang bekas yang memiliki potensi untuk jadi tempat perkembangbiakan nyamuk penular Demam Berdarah.

Gerakan itu juga mencakup kegiatan menaburkan bubuk larvasida pada tempat penampungan air yang sulit dibersihkan; menggunakan obat nyamuk atau anti nyamuk; menggunakan kelambu saat tidur; memelihara ikan pemangsa jentik nyamuk; menanam tanaman pengusir nyamuk, mengatur cahaya dan ventilasi dalam rumah; dan menghindari kebiasaan menggantung pakaian di dalam rumah yang bisa menjadi tempat istirahat nyamuk.

Comments are closed.