Survei LIPI: Jabar, Aceh dan Banten Tinggi Tingkat Penerimaan Hoax

52
261

Jakarta NAWACITA – Tiga daerah provinsi, Aceh, Jawa Barat dan Banten dinilai sebagai daerah yang tingkat penerimaan berita bohong dan hoaxnya sangat tinggi. Penilaian ini merupakan hasil survei dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Peneliti KIPI, Amin Mudzakir mengungkapkan, tingkat penerimaan terhadap hoaks terkait bangkitnya komunisme, kriminalisasi ulama, dan masuknya jutaan Tenaga Kerja Asing (TKA) asal China di tiga daerah tersebut sangat tinggi.

Amin menjelaskan, survei LIPI, ingin memotret tingkat intoleransi di sembilan provinsi di Indonesia yaitu Aceh, Sumatera Utara, DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, dan Sulawesi Selatan.

Hasilnya, menurut dia, di daerah yang memiliki afiliasi dengan Islam politik, sangat tinggi tingkat penerimaan informasi hoaks.

“Agama menjadi paham yang berikan dasar keyakinan bahwa komunisme adalah salah, dan itu digunakan tentara di era orde baru untuk mengkampanyekan paham anti-komunisme,” ujarnya.

Dia menjelaskan Islam politik yang dimaksud adalah memiliki afiliasi dengan Masyumi, sehingga mereka antipati terhadap komunisme dan di daerah yang partai tersebut menang di Pemilu 1955, angka anti-komunisme tinggi seperti Jawa Barat.

Namun, dia menilai, di beberapa daerah yang pengaruh Nahdlatul Ulama (NU) sangat kuat, maka daya tahan terhadap isu hoaks komunisme sangat tinggi seperti di Jawa Timur.

“PBNU bahkan sudah mengatakan kalau isu kebangkitan PKI itu hoaks, kalau ditarik ke belakang, di era Presiden ke-4 Abdurrahman Wahid ada usaha rekonsiliasi dan berkali-kali dikatakan bahwa PKI sudah kalah dan tidak mungkin bangkit kembali,” ucapnya.

Amin menambahkan, dia juga menilai ormas seperti Muhammadiyah bersikap ambivalen terkait isu hoaks komunisme, yaitu tidak memberikan ketegasan sikap apakah kebangkitan PKI itu hoaks atau tidak.

“Akibatnya, masyarakat di akar rumput tidak punya dasar referensi mengecek apakah hoaks PKI itu benar atau tidak,” pungkasnya.

Sumber: Ant

Comments are closed.