BNPB: 150 Juta Warga Tinggal di Daerah Rawan Bencana

1
184
Kepala BNPB Willem Rampangilei berfoto bersama peserta Forum Tematik Bakohumas, di Gedung BNPB, Jakarta, Kamis (30/3) pagi. (Foto: Ist)

Jakarta-SuaraNusantara

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Willem Rampangilei mengatakan, pada 2017, korban bencana terdampak di 105 kota/kabupaten yang utamanya karena degradasi. Sebanyak 24,67 juta DAS (Daerah Aliran Sungai) kritis dan banyak sungai yang digunakan sebagai pembuangan sampah.

“Masih ada sekitar 150 juta warga yang berada di rawan bencana baik daerah banjir, tsunami dan lainnya,” ujar Willem dalam Forum Tematik Badan Koordinasi Hubungan Kemasyarakatan (Bakohumas), yang dihelat di Graha Lt. 15 Gedung BNPB, Jakarta, Kamis (30/3/2017) pagi.

Guna menangani dampak bencana yang terjadi di seluruh wilayah tanah air, pemerintah pada tahun 2017 ini telah mengalokasikan dana sebesar Rp16 triliun. Dana tersebut tersebut di sejumlah kementerian dan lembaga (K/L) yang terkait dengan penanganan dampak bencana gempa.

“Dana tersebut masih di bawah dari kerugian yang harus ditanggung akibat terjadinya gempa atau bencana di tanah air, yang setiap tahunnya mencapai Rp30 triliun,” katanya.

Dana yang dialokasikan untuk penanganan bencana itu, menurut Willem, juga meliputi program reboisasi, penghijauan yang dilakukan oleh sejumlah kementerian dan lembaga (K/L).

Dari bencana yang ada, menurut Willem, kebanyakan karena korban tinggal di daerah bencana. Ia juga menambahkan perubahan cuaca secara ekstrem juga jadi penyebab terjadinya bencana seperti di Garut dan Kabupaten Limapuluh Koto.

“Slogan penanggulangan bencana internasional adalah Is Everyone Business. Beragam ilmu digunakan untuk penanggulangan bencana. Di Jepang pemahamannya hingga 35 persen dalam penanganan bencana,” ujar Willem.

Upaya dalam penanggulangan, menurut Willem, harus dilakukan secara bersama dan dibangun dengan kepedulian dan naluri, serta dididik setiap hari untuk hadapi bencana.

Penulis: Yon

Comments are closed.