Buruh Migran Perempuan Masih rentan Tindak kekerasan

57
260
Talk show Peluncuran Aplikasi SOS / Foto: Net

Nawacitapost.com – Ketua Badan Eksekutif Nasional Solidaritas Perempuan (SP), Puspa Dewy mengatakan, perempuan buruh migran rentan terhadap kekerasan dan pelang­garan hak di seluruh tahapan mi­grasi. Baik sebelum keberangka­tan, pada saat bekerja di negara tujuan, bahkan hingga pasca kepulangan.

Menurut Puspa, sepanjang tahun 2016 kemarin, SP menangani 66 kasus kekerasan dan pelanggaran hak perempuan yang bekerja sebagai buruh migran. Dari 66 kasus tersebut, 10 kasus merupakan pengaduan kasus baru dan 56 ka­sus masuk sebelum tahun 2016 yang belum terselesaikan.

“Angka ini menunjukkan bahwa Perempuan Buruh Migran yang mengalami kasus sangat sulit untuk mencapai keadilan,” tutur Puspa, di Jakarta, kemarin.

SP juga menemukan fakta bahwa banyak kasus kekerasan yang dialami perempuan buruh mi­gran tidak dilaporkan, sehingga perempuan buruh migran tidak mendapatkan keadilan.

“Hal ini karena perempuan buruh migran sering kali tidak memiliki akses informasi dan akses terhadap bantuan hukum sehingga tidak bisa menin­daklanjuti kasus yang mereka alami,” ujar Puspa.

Situasi ini mendorong Solidaritas Perempuan (SP) untuk mengembangkan inovasi untuk menghubungkan Perempuan Buruh Migran, terutama yang mengalami kasus,  dengan pihak-pihak yang menangani kasus, termasuk sebagai media informasi bagi perempuan buruh migran, salah satunya dengan membuat aplikasi Save Our Sisters (SOS).

“Save Our Sisters merupakan platform yang mulai dikembangkan pada awal 2016, dan ditujukan untuk menciptakan ruang yang dapat menghubungkan antara PBM dengan Organisasi dan pihak-pihak yang akan memberikan berbagai layanan yang dapat mereka berikan, seperti konsultasi dan bantuan hukum, atau informasi-informasi penting yang perlu diketahui oleh PBM,” jelas Puspa.

“Aplikasi ini juga diharapkan dapat menjadi sebuah kanal informasi bagi Perempuan Buruh Migran dan keluarganya, sekaligus informasi bagi mengenai situasi dan kasus-kasus yang dialami perempuan buruh migran dan dapat menjadi referensi bagi pemerintah, sehingga turut berkontribusi terhadap perbaikan kebijakan maupun program terkait Perlindungan Buruh Migran,” lanjutnya.

Melalui peluncuran yang juga akan dikemas di dalam Talkshow, SP mengharapkan respon dan masukan pihak-pihak terkait, untuk pengembangan aplikasi dan sinergisitas perjuangan hak-hak perempuan buruh migran dan keluarganya. (EM)

 

Comments are closed.