MK Menguliti Habis Dalil Pemohon, Menyakitkan tapi Mencerahkan

0
27

Jakarta, NAWACITA – Sidang MK pembacaan hasil keputusan sengketa hasil Pilpres 2019 yang digugat oleh Capres 02 Prabowo dan Sandiaga Uno masih berlangsung dan mengambil jeda atau skorsing kedua sejak berlangsung pukul 13.45 dan akan dilanjutkan pada pukul 19.00 hingga bagian akhir yaitu “keputusan MK”

Publik sangat antusias mengikuti jalannya persidangan melalui radio dan televisi, untuk memahami semua alur berpikir Hakim Mahkamah Konsititusi tentang seluruh gugatan yang diajukan melalui dalil-dalil dan 15 petitum yang akan dijawab oleh Mahkamah.

Sungguh sangat menarik mengikuti jalannya sidang yang sangat heboh ini, karena di luar sidang, di jalan-jalan masih banyak kelompok massa yang menamakan diri mengawal keputusan MK hari ini. Semua ingin tahu hasil akhir dari sidang ini.

Sesungguhnya, kalau diikuti dengan cermat tanpa jeda sama sekali, maka orang awam pun sudah bisa menyimpulkan hasil akhir dari keputusan Mahkamah ini. Karena penjelasan seluruh proses dan poin demi poin disajikan dengan sangat rapi, terstruktur dan dibaca bergantian dengan suara yang sangat menggelegar di hati pendengar. Artinya, pesannya jelas dimengerti.

Mengikuti pembacaan telaah hakim MK tentang dalil per dalil sungguh mengasyikan, tetapi sesungguhnya sangat menyakitkan. Bukan saja bagi si pemohon tetapi juga bagi pendengar. Bahwa betapa tidak mudahnya untuk membuktikan sebuah dalil hukum dengan sejumlah bukti yang harus sesuai dengan koridor hukum acara yang ada.

Mendengar hakim MK membacakan ulasan dalil perdalil, terasa seperti “ditelanjangi” dan di ubek-ubek habis-habisan, bahkan dikulitin sampai tuntas sehingga terang benderang secara hukum dan aturan yang ada. Sehingga kebenaran hukum menjadi “telanjang” adanya di depan seluruh rakyat Indonesia.

Betul sekali pesan awal ketua MK, bahwa kebenaran yang diungkapkan oleh Sidang MK dipertanggungjawabkan kepada Allah yang Maha Kuasa saja.

Penyajian pengungkapan kebenaran hukum, di mulai dengan menyajikan dalil dan alasan dalil serta bukti-bukti yang disajikan oleh pemohon, kemudian di sandingkan dengan jawaban dari termohon dan terkait, lalu Hakim MK menilainya dengan dasar hukum yang ada, dan membuat kesimpulan hukum. Bagian inilah yang sesungguhnya menarik bagi publik mengikuti, karena nyaris tidak ada yang terlewati sehingga kesimpulan perdalil menjadi sebuah kebenaran yang adil.

Hingga memasuki jedah kedua, nampak bahwa semua dalil yang diajukan oleh pemohon kubu Prabowo dan Sandi, satupun tidak ada yang lolos untuk diterima oleh Hakim Mahkamah Konstitusi. Dengan kata lain, satu persatu dalil itu tidak bisa dibuktikan oleh pemohon berdasarkan saksi, fakta yang disajikan dan dibahas habis-habisan selama proses persidangan sebelumnya.

Bila disederhanakan, lalu menjadi dua hal utama yang perlu di ikutin yaitu, pertama, bahwa kewenangan MK untuk menyelesaikan sengketa hasil Pilpres, yang digugat oleh Pemohon dengan selisih hasil yang dimiliki, ternyata tidak bisa dibuktikan. Dan kedua, dalil-dalil terkait kecurangan TSM selain bukan kewenangan utama dari MK, tetapi semua dalil yang diajukan belum ada yang lolos untuk diterima oleh MK.

Memang menyakitkan sekali ketika mendengar bagaimana dalil per dalil di kupas habis oleh MK dan disimpulkan bahwa tidak terbukti. Bagi pemohon tentu menjadi hal yang tidak mudah menerima kenyataan ini, tetapi sesungguhnya, kesimpulan-kesimpulan yang dibuat oleh MK sungguh sangat mencerahkan dan membuat publik menjadi melek hukum, khususnya hukum pemilu yang berlaku.

Kesan kuat yang sangat terasa ketika mendengarkan pembahasan dalil-dalil yang diajukan oleh tim kuasa hukum Prabowo adalah bahwa tidak mudah untuk menyajikan bukti-bukti yang dibutuhkan dalam persidangan seperti sidang MK ini. Walaupun sudah ada materi buktinya, seperti rekaman video yang nampaknya sangat banyak dan lengkap, tetapi apabila tidak bisa diberikan narasi yang sesuai dengan keadaan yang sebenarnya maka sia-sialah bukti itu.

Kelemahan pembuktian dari 02 ini semakin terasa berat ketika KPU sebagai pihak termohon memiliki bukti-bukti yang jauh lebih lengkap dan komplit untuk membantah semua dalil yang diajukan oleh kubu Prabowo.

Di sebuah GWA, yang juga ramai membahas hasil sidang sampai sekarang, mengatakan bahwa untuk membuktikan sebuah dalil, harus memenuhi 4W+1H. Yaitu What, When, Who, Where, dan How. Semuanya harus lengkap nan komplit untuk bisa dianggap sah secara hukum. Dan dirangkai dalam narasi yang bukan asumsi dan opini semata, tetapi betul-betul fakta riil yang dibawa dalam sidang.

Nampaknya bagian ini yang sangat sulit, dan tentu saja menyakitkan karena Pemohon sudah menghadirkan sejumlah saksi fakta dari seluruh Indonesia, dan menyiapkan semua dokumen yang berkonteiner banyaknya, tetapi itu semua menjadi tiada arti dan guna kalau tidak memenuhi syarat hukum.

Bagian inilah sesungguhnya yang memberikan pencerahan bagi publik, kalau berurusan tentang hukum dalam sebuah sengketa biasakan diri untuk memiliki bukti-bukti hukum yang lengkap.

Penulis : Yupiter Gulo
Editor : Darieli Harefa

Artikel ini telah tayang perdana di kompasiana.com https://www.kompasiana.com/yupiter/5d14b35b0d82307c8c5c46e2/ketika-mk-mengulit-habis-dalil-pemohon-menyakitkan-tapi-mencerahkan

Tinggalkan Balasan