Merdeka Tanpa Radikalisme

0
12

Bali,NAWACITA-Paham radikalisme telah menyebar dalam ruang lingkup masyarakat Indonesia. Paham ini telah merusak tatanan dan keutuhan bangsa Indonesia. Masyarakat masih dihantui ketakukan akibat paham radikalisme kendati Indonesia telah merdeka 74 tahun yang lalu.

Dalam mengatasi permasalahan ini, maka tim peneliti dari Universitas Dhyana Pura (Undhira) mengadakan Seminar Ilmiah Nasional di kawasan Puja Mandala Nusa Dua Bali,pekan lalu. Seminar kali ini bertemakan “Merdeka tanpa Radikalisme”. Tema ini relevan dengan perkembangan paham radikalisme yang sudah masuk dalam lembaga keluarga, lembaga pendidikan, lembaga agama, dan lembaga pemerintah, sehingga mengganggu kedamaian. Kemerdekaan yang sudah kita nikmati selama bertahun-tahun, ternyata masih dihantui dengan adanya peningkatan terpaparnya masyarakat terhadap paham radikalisme.

Akibat perkembangan paham ini menimbulkan sikap intoleransi dan aksi terorisme di tengah masyarakat. Paham radikalisme bermuara pada sikap tidak mengakui ideologi Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika, dan NKRI.

Dr. Dermawan Waruwu, M.Si selaku ketua tim peneliti terapan hibah Kementerian Ristekdikti memberi edukasi kepada masyarakat tentang bahaya paham radikalisme dan cara mencegahnya melalui seminar tersebut. Narasumber utama yaitu Ida Pangelingsir Agung Putra Sukahet selaku Ketua Umum Asosiasi Forum Kerukunan Umat Beragama Indonesia dan Ketua FKUB Provinsi Bali Drs. I Wayan Solo, M.Si selaku Ketua Paguyuban Antar Umat Beragama Puja Mandala. Narasumber ini memaparkan bahwa paham radikalisme tidak boleh ada di Indonesia. Oleh sebab itu, penguatan harmonisasi dan komunikasi terus ditingkatkan oleh semua komponen bangsa.

Dr. dr. Made Nyandra, Sp.KJ., M.Repro., FIAS; dan Dr. Ni Made Diana Erfiani, S.S., M.hum selaku tim peneliti menjelaskan bahwa perilaku orang yang terpapar paham radikalisme cenderung tidak menerima kehadiran orang lain yang berbeda pandangan dengannya. Oleh sebab itu, Diana mengatakan bahwa kesantunan bahasa dapat mencegah penyebaran paham radikalisme tersebut.

Adapun jumlah peserta yang hadir sekitar 100 orang terdiri dari tokoh agama, tokoh adat, akademisi, guru, penyuluh agama, dan lembaga pemerintah di Bali. Semua lembaga ini telah terpapar dan terus berpotensi sebagai penyebar paham radikalisme tersebut.

Semua peserta seminar ini diharapkan menjadi penjaga ideologi Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI. Melalui pemberdayaan ini maka paham radikalisme semakin berkurang atau hilang di wilayah Indonesia. Dengan demikian, suasana kemerdekaan itu tetap dirasakan oleh masyarakat tanpa gangguan keamanan dari paham radikalisme, intoleransi, dan terorisme.

Tinggalkan Balasan