Menkumham Tegaskan Harus Dibedakan Pengguna dan Pengedar Narkoba

0
58

Jakarta NAWACITA – Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly mengungkapkan, pentingnya garis yang jelas untuk membedakan antara pengedar narkoba dan pemakainya. Hal itu, menurut Yasona, menjadi alasan yang melatarbelakangi pengajuan revisi UU (UU) Narkotika.

Menurut Yasona, pengguna narkoba banyak yang mendapat hukuman seperti pengedar, karena mereka terkena pasal jebakan. Karena itulah, kata dia, saat ini diajukan revisi UU Narkotika.

“Revisi UU Narkotika, untuk lebih menegaskan bahwa saat ini, pengguna itu direhabilitasi. Tapi ada pasal-pasal jebakan yang kadang digunakan penyidik,” kata Yasonna di LP Narkotika Cipinang, Senin (17/12).

Yasonna juga memberi contoh kasus ketika seorang pengguna yang kedapatan membawa 2-3 butir narkoba, namun dikenai hukuman sebagai kurir. Padahal, pengguna tersebut seharusnya memperoleh rehabilitasi.

“Pengguna hanya membawa 2-3 butir namun dikenai hukuman sebagai kurir. Kalau sudah jadi kurir, hukuman 5 tahun ke atas. Kalau sudah 5 tahun ke atas tidak bisa dapat remisi,” jelas Yasonnadi hadapan para penghuni Lapas Narkotika Cipinang.

Pengguna narkoba, ditegaskannya, harus direhabilitasi. Jika mereka dipenjara, kata Yasonna, hal tersebut berpotensi menjadi beban lembaga dan merembet pada kasus penyelundupan narkoba yang melibatkan petugas lapas.

Ditegaskannya lagi, bahwa penegak hukum harus membedakan mana pengguna dan kurir secara jelas.

“Lapas di Indonesia kini menahan lebih dari 100.000 terpidana kasus narkotika. Namun tak sampai 50% yang merupakan pengguna. Jika ingin menyelesaikan permasalahan ini, mau tidak mau kita harus rehabilitasi pengguna narkoba, bukan menahannya di balik penjara,” tegasnya.

Tinggalkan Balasan