Menghindari Kebangkrutan, Net TV Memilih Strategi “Retrenchment”

0
21
Menghindari Kebangkrutan, Net TV Memilih Strategi "Retrenchment"

Jakarta, NAWACITA – Berita salah satu stasiun televisi swasta nasional di Indonesia yaitu Net TV menjadi viral dikalangan warganet. Bahkan muncul berbagai tagar terkait keprihatinan kelanjutan dan masa depan dari Net TV yang dianggap sangat baik selama ini, bahkan mendapatkan sejumlah penghargaan.

Isu yang menjadi berita adalah PHK massal yang dilakukan oleh stasiun televisi ini, yang langsung diterjemahkan sebagai kondisi kebangkrutan yang dihadapi oleh perusahaan.

Antara lain misalnya oleh CNN Indonesia memberitakan kebijakan Manajamen Net TV yang menawarkan kepada semua karyawannya untuk mengundurkan diri atau resign. Tanpa penjelasan yang detail dan komprehensif sehingga menimbulkan berbagai penafsiran di kalangan publik. Baik penafsiran asal-alasan saja, hingga analisis berdasarkan fakta yang setengah-setengah.

PT Net Mediatama Televisi, perusahaan yang menaungi Net TV mengaku menawarkan seluruh karyawannya untuk mengundurkan diri (resign) sebagai salah satu upaya efisiensi perusahaan. Pegawai diiming-imingi imbalan (benefit) lebih dari jumlah gaji yang biasa didapatkan sebulannya.

Apakah Net TV Bangkrut?

Ketika mahasiswa saya dikelas bertanya apakah dengan berita itu Net TV bangkrut? Jawabannya belum tentu, karena sama sekali tak ada penjelasan dari pihak Manajemen tentang kondisi perusahaan itu. Ya, kalau bangkrut pasti melalui proses yang panjang, dan tidak mungkin beritanya mendadak demikian.

Baca Juga: Pemimpin Sejati Itu Mengelola Kesalahan dan Kegagalan

Atau mungkin sedang menuju pada kondisi bangkrut? Sangat mungkin juga, sebelum suatu perusahaan menghadapi situasi buruk itu, yaitu collapse atau bangkrut, manajemen akan mengambil tindakan pendahuluan untuk menyelamatkan situasi operasi perusahaan.

Suatu perusahaan biasanya dianggap bangkrut apabila tidak mampu lagi membiayai semua operasional dari hari ke hari, day by day business operations, sedemikian rupa sehingga jalannya perusahaan tidak lancar alias terganggu. Indikator kunci untuk kondisi ini adalah hasil penjualan setiap bulan jauh lebih kecil atau rendah ketimbang total biaya yang dikeluarkan setiap bulan.

Betul, Total Cost/Biaya Total lebih besar dari Total Revenue/Jumlah Penjualan. Untuk membiayai kekurangan pengeluaran dia akan menutup dengan hutang, atau pembayaran ditunda bagi yang berhak.

Kesimpulan sederhananya, cashflow operasional perusahaan selalu minus. Dan kalau terus minus maka dipastikan, jumlah kewajiban atau hutang akan terus menerus membengkak dan akan menjadi beban perusahaan kalau tidak mampu mengubah keadaan cashflow operasi menjadi positif.

Baca Juga: Kekesalan Prabowo pada “Penumpang Gelap”

Nah, semakin besar beban atau hutang perusahaan maka akan mengancam perusahaan tidak mampu membayar dan menyelesaikannya kepada yang berhak. Dan ujungnya adalah kebangkrutan perusahaan itu sendiri. Karena semua pihak ketiga minta segera dibayar hutang-hutang perusahaan.

Melihat pemberitaan sekitar Net TV yang menawarkan semacam strategi “golden shake hand” kepada karyawannya maka dipastikan bahwa perusahaan Net TV ini sedang mengalami kesulitan cashflow operasional. Bisa saja saat ini masih positif keadaan kas perusahaan  tetapi kecenderungannya semakin menipis dari waktu ke waktu.

Mengapa demikian? Karena hasil penjualan jasa Net TV, pemasukan setiap bulan bukan semakin besar tetapi semakin menurun, atau paling tidak semakin stagnan. Tetapi pada sisi lain, biaya operasionalnya, overhead cost, semakin meningkat dan semakin membebani.

Baca Juga: Memaknai Pesan Kunci Jokowi: Bersama Membangun Negeri

Dari sisi analisis Keuangan ini sangat membahayakan. Dan karenanya perusahaan harus mengambil keputusan strategis untuk mengatasinya sebelum keadaan yang lebih buruk menjadi kenyataan, yaitu perusahaan bangkrut. Dan kalau sudah bangkrut, maka semuanya akan menjadi berantakan, dan semua pihak saling menuntut.

Strategi Penghematan atau “Retrenchment Stratgey”

Walaupun saya tidak memiliki data-data keuangan yang dicapai oleh perusahaan pengelola Net TV ini, tetapi dipastikan bahwa perusahaan ini nampak cepat bergerak untuk memilih exit strategy yang wise dan elegant bagi semua orang.

Hal ini bisa dilihat dari tawarannya kepada seluruh karyawannya untuk mengundurkan diri dengan imbalan keuangan atau benefit yang bagus, seperti dilaporkan oleh CNN Indonesia.

Chief Operating Officer Net Mediatama Azuan Syahril mengatakan penawaran itu baru mulai dilakukan bulan ini. Ia mengklaim mayoritas karyawan menyambut baik kebijakan tersebut, sejumlah pegawai pun sudah mulai memberikan surat pengunduran diri.

“Tapi ini sifatnya penawaran ya, bukan keputusan sepihak seperti kabar yang beredar. Kami tidak ada pemutusan hubungan kerja (PHK). Kalau karyawan tidak berminat mengundurkan diri, tidak masalah,” ucap Azuan kepada CNN Indonesia, Jumat (9/8). Azuan tak menjelaskan rinci berapa imbalan dana yang diberikan kepada karyawan yang bersedia mengundurkan diri. Hal yang pasti, perhitungannya disesuaikan dengan masa kerja masing-masing pegawai.

Dalam literatur Strategy Management dimengerti bahwa, yang dilakukan oleh Manajemen Net TV ini dikenal dengan istilah “Retrenchmenet Strategy” atau Strategi Penghematan. Wheelen dan Hunger dalam buku teksnya Strategic Management (2018), mengatakan bahwa Retrenchment strategy is to reduce the company level of activities. Perusahaan tidak melakukan ekspansi kegiatan operasi perusahaan, pun tidak memilih stabilitas operasi seperti biasa, tetapi dia memilih untuk mengurangi operasi perusahaan.

Baca Juga: MK Menguliti Habis Dalil Pemohon, Menyakitkan tapi Mencerahkan

Sebagai strategi penghematan, semua aktifitas perusahaan secara operasional “dipangkas” dimana-mana. Kalau perlu sejumlah divisi atau SBU, Strategi Business Unit nya di potong dan dibuang dahulu agar penghematan di segala bidang dapat dicapai. Dengan tujuan akhir agar penjualan atau pemasukan setiap bulan lebih besar dari total biaya atau pengeluaran sampai keadaan cashflow betul-betul positif.

Nah, langkah sederhana yang dilakukan oleh perusahaan dengan strategi penghematan ini adalah melakukan rasionalisasi karyawan, atau pengurangan jumlah karyawan di bagian atau unit-unit operasi yang memang ditutup habis karena tidak menghasilkan uang yang cukup.

Bahkan merasionalisasi seluruh karyawan agar nanti direkrut yang betul-betul baru, juga merupakan exit strategy yang dipilih oleh Manajemen untuk memulai hidup baru bagi perusahaannya, bahkan membangun kembali corporate culture yang baru yang diyakininya sukses di masa depan.

Untuk dipafahami saja, bahwa Retrenchment Strategy itu memiliki beberapa pilihan bagi Manajemen perusahaan sesuai kebutuhan dan kondisi perusahaan yang sedang dihadapi, yaitu:

  1. Turnaround
  2. Captive Company
  3. Sell-out/Divesment
  4. Bankrupcy/Liquidation

Kalau diurutkan dimulai dengan strategi turn-around, yaitu melakukan berbagai upaya agar posisi atau kondisi cashflowperusahaan menjadi positif dengan cara penghematan habis-habisan, termasuk rasionalisasi karyawan seperti yang sedang dilakukan oleh Net TV.

Baca Juga: Calon Sekjen KPK Dr. Hiskia, Satu-satunya Calon dari Luar KPK

Kalau turn-around strategy gagal, meningkat kepada captive market perusahaan yang memfokuskan diri pada core business yang memang betul-betul dikuasai dan dikendalikannya sehingga jalannya perusahaan bisa berjalan dengan baik. Dan kalau ini gagal, maka strategi ketiga harus diambil yaitu sell-out atau divestasi, dengan cara menjual sebagian asset perusahaan, menjual divisi atau SBU perusahaan hingga turn-around tercapai.

Dana kalau divestasi strategy gagal, mau tidak mau pilihan terakhir adalah bankruptcy dan atau liquidation. Dan yang terakhir ini berarti perusahaan itu akan tamat dan berakhir hidupnya di dunia ini.

Net TV dan Mis-management
Salah satu berita paling akhir tentang masalah Net TV  dengan judul “Wishnutama Ternyata Tak Lagi Jabat CEO NET TV, Inilah Sosok CEO Baru yang Tak Kalah Keren”. Artinya CEO lama atau Manajemen lama sudah ganti dengan CEO baru.

Dalam persepektif Manajemen Startegi, tidak penting siapa CEO  Net TV ini, tetapi dalam kaitan masalah yang sedang membelit perusahaan Net TV ini, hendak ditegaskan bahwa kesulitan cashflow keuangan perusahaan merupakan indikator utama dari kegagalan Manajemen perusahaan.

Artinya, manajemen yang di pimpin oleh CEOnya “gagal” mengelola perusahaan sehingga harus berada pada arena “retrenchment”. Artinya, pengelolaan bisnis Net TV tidak efisien, karena lebih besar pasang daripada tiang. Penjualan selalu lebih rendah perkembangannya dengan kenaikan total biasa setiap bulan.

Dipastikan, ada mis management dalam perusahaan itu. Dan karenanya memang harus diganti dengan Manajemen dan CEO yang baru.

Bahwa persaingan industri televisi dan semua kaitannya memang tidaklah mudah, karena investasi yang dibutuhkan sangat besar untuk membangun infrastruktur yang menjawab dinamika perubahan kebutuhan pasar life style di Indonesia.

Kreativitas dan inovasi tiada henti menjadi tuntutan yang tidak bisa dihindari bagi si pengelola stasiun televisi kalau tidak mau mengalami kebangkrutan yang menyakitkan.

CEO dan Manajemen yang Net TV yang baru harus berani dan segera melakukan strategi manajemen yang menerobos persoalan yang selama ini melilit perusahaan.

Melakukan rasionalisasi secara total menjadi kunci untuk mengubah corporate cultera yang menjadi tuntutan pasar industri yang sedang berubah.

Penulis : Yupiter Gulo
Editor : Daril Harefa

Artikel ini telah tayang perdana di kompasiana.com: https://www.kompasiana.com/yupiter/5d526a080d82301414230ea2/menghindari-kebangkrutan-net-tv-memilih-strategi-retrenchment?page=1

Tinggalkan Balasan