Korban Jiwa Gempa-Tsunami di Sulteng Mencapai 844 Orang

0
42
Evakuasi korban Gempa-Tsunami di Palu-Donggala. (Foto: Antara)

Jakarta, NAWACITA– Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat  jumlah korban tewas akibat gempa dan Tsunami Palu-Donggala, Sulawesi Tengah saat ini mencapai 844 orang.

Korban paling banyak terdapat di Palu berjumlah 821 orang, Donggala 11 orang dan Kabupaten Parigi Moutong 12 orang.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwonugroho menjelaskan bahwa jumlah ini didapatkan dari data petugas dilapangan. Korban jiwa mungkin bisa bertambah karena masih ada yang belum teridentifikasi serta dievakuasi.

“Jumlah korban meninggal di Palu sama tapi 744 orang sudah terverifikasi. Kebanyakan korban meninggal karena tertimpa oleh bangunan yang roboh karena gempa,” kata Sutopo dalam konferensi pers di Graha BNPB, Jakarta Timur, Senin (1/10).

Sutopo menambahkan saat ini kondisi jenazah mulai mengeluarkan bau tak sedap sehingga pemakaman massal akan dilakukan hari ini pada jenazah yang sudah teridentifikasi.

Sementara korban luka 632 orang dan kini dirawat di berbagai rumah sakit. Pengungsi juga telah mencapai 48 ribu orang di Palu. Data pengungsi di Donggala dan wilayah lainnya belum terdata.

Masalah listrik padam dan akses masih menjadi kendala sulitnya mendata pengungsi.

Menurut Sutopo, masyarakat yang awalnya menyelamatkan diri di atas bukti juga telah turun bergabung dengan warga lain di 103 titik pengungsian. Di sisi lain, 90 orang masih dinyatakan hilang.

Proses evakuasi masih akan terus dilanjutkan. Namun jumlah korban diperkirakan akan terus bertambah karena gempa sempat terjadi di Patobo yang cukup parah.

“Fenomena likuifaksi di Patobo menenggelamkan ratusan rumah dengan lumpur hitam. Ada 744 unit rumah yang tertimbun lumpur hitam. Evakuasi lebih sulit. Oleh karena itu jumlah korban terus bergerak dinamis,” ujarnya.

Sementara sebanyak 1.682 korban gempa dan tsunami Palu yang mengungsi di halaman Polda Sulawesi Tengah masih bertahan di lokasi meski kebutuhan logistik terus menipis.

 

 

 

(Red: Restu, sumber CNN)

Tinggalkan Balasan