Jakarta, NAWACITAPOST.COM – Pengamat hubungan Internasional yang juga Rektor Universitas Jenderal Ahmad Yani, Cimahi, Jawa Barat Prof Hikmahanto Juwana SH, LL.M. Ph.D, menyatakan Indonesia jangan mau diatur oleh Amerika Serikat. Penegasan tersebut, ia sampaikan dalam perbincangannya di kanal YouTube Crosscheck From Home Medcom.id, Minggu 17 April 2022, terkait dengan undangan Indonesia ke Rusia dalam gelaran G20 di Bali.
Baca Juga : Amerika Ganggu Kedaulatan Indonesia, Pengamat Militer Connie Rahakundini : Kita Harus Bantu Jokowi dan Lawan
Prof Hikmhanato melanjutkan. “Nah Amerika mengatakan tak akan hadir bila Putin juga hadir di presidensi G20 yang dihelat di Bali, Indonesia. Bagaimana kita membuat terobosan-terobosan itu. Apa salah Indonesia? Sehingga kita itu dihukum sama Amerika Serikat,” tandasnya.
“Lah kalau mereka punya masalah dengan Rusia silahkan selesaikan dengan Rusia. Jangan kemudian kita Indonesia ini dihukum. Kita kan gak layak dihukum? Bahkan kita selalu bilang pada waktu ada resolusi majelis umum PBB, kita tahu Indonesia sudah memberikan vote bahkan jadi sponsor resolusi yang disiapkan oleh Amerika Serikat, kita kan sudah kerjasama dengan Amerika Serikat, yaitu mendukung resolusi tersebut. Apakah kita layak dihukum sekarang? Dengan mengatakan bahwa kalau Rusia datang, saya (baca : Amerika) tidak akan datang atau delegasi Rusia datang saya tidak akan datang, kan gak betul kaya begitu,” ungkap mantan Dekan Fakultas Hukum UI itu.
Sekarang gak usah buat pernyatan-pernyataan seperti itu. Kalau Amerika dan barat datang ayo. Saya menduga Amerika Serikat mau menghukum kita, dan itu gak fair kalau melakukan hal seperti itu, tegasnya
Kita mengundang Rusia memang secara prosedur, setiap anggota pasti dapat undangan, bahwa misalnya Rusia tidak akan diundang, itu bukanlah Indonesia yang tidak mengundang, silahkan kesepakatan dari negara2 G20.
Kesepakatan dari negara-negara tidak dilakukan sama Amerika Serikat, tetapi Amerika menyuruh Indonesia untuk tidak mengundang Rusia. Tunggu dulu. Kecuali kita keledai masuk dalam lubang dua kali. Yang harus dilakukan Indonesia terkait gelaran G20 kita harus bertanya ke Kanada, Italia dan Amerika Serikat, apa salah kita? Lalu mereka mengatakan ya sudah, ya gak bisa, dan lain sebagainya, ya gak apa2 juga. Kita juga tidak memaksa. Kemarin (tahun 2021) saat Italia jadi host G20, Presiden Tiongkok Xien Jinping gak datang, ya mungkin ada kendala di dalam negeri atau apa?
Tapi jangan menyuarakan sebelum terjadi, karena apa? Itu sama saja memindahkan konflik antara Rusia Vs Amerika di Ukraina sekarang, dibawa ke Indonesia. Itu yang harus dilawan oleh pemerintah Indonesia.
Menurut saya harus tetap ada upaya untuk melakukan pendekatan kepada semua anggota G20. Karena gini, pada waktu pelaksanaan gerakan non blok itu banyak mantan diplomat kita atau tokoh-tokoh itu, diminta untuk pergi ke negara yang diundang. Idenya apa untuk memastikan mereka datang? Tuturnya.
Lain kan kalau misalnya cuman mengirimi undangan, dibandingkan kita mendatangi menjadi spesial envoy, kita merupakan utusan khusus dari bapak presiden, dan kami berharap Anda akan datang karena agenda-agenda yang akan dibahas ini penting bagi dunia, bagi perekonomian dunia.
Yang pasti ada progres kearah sana kan, tapi ini harus diintensitaskan dan dilakukan ke berbagai negara dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.
Lalu ada pejabat kita yang mengatakan, oh ini kan acaranya masih bulan Nopember sedangkan ini bulan April, oh itu gak bisa seperti itu. Apalagi kita mendengar berita bahwa presiden Putin akan melakukan special military aproach ini sampai tujuan mulia tercapai, kita gak tahu tujuan mulianya sampai mana.
Maka gelaran G20 yang dihadiri Putin, seharusnya menjadi pintu dialog kearah perdamaian antara Amerika plus Barat dan Rusia, serta dunia.