Menlu Hadiri KTT Peringatan 60 Tahun GNB

0
431
FOTO : Retno L.P. Marsudi

Jakarta, NAWACITAPOST – Menteri Luar (Menlu) Negeri Reno Marsudi lakukan kunjungan kerja untuk menghadiri KTT peringatan 60 tahun Gerakan Non Blok (GNB) serta pertemuan bilateral dengan Menlu Serbia.

Baca juga: Gebyar Akhir Tahun ! Nawacita TV Gelar Kontes Berhadiah Jutaan Rupiah 

Pertemuan pertama dengan Presiden Serbia. 

Serbia adalah teman dekat dan teman lama Indonesia sejak pendirian GNB. Diketahui, Presiden Soekarno dan Presiden Josip Broz Tito adalah dua dari lima pendiri Gerakan Non Blok ini.

Dalam pertemuan itu, Retno menekankan pentingnya bagaimana spirit GNB dapat terus dijalankan dalam menghadapi tantangan global yang semakin kompleks. Sebagai “founding father” Indonesia juga mengadakan perayaan pendirian GNB ini 5 tahun yang lalu agar spirit GNB terus hidup dan dijalankan.

Presiden Serbia menghargai posisi Indonesia yang terus teguh menjaga prinsip-prinsip GNB, termasuk prinisp penghormatan terhadap kedaulatan dan integritas teritori, persamaan dan semangat kerjasama.

Dalam kesempatan tersebut, Retno menyampaikan pesan Presiden Joko Widodo dan meminta dukungan upaya Indonesia menominasikan arsip KTT GNB ke-1 tahun 1961 di Beograd sebagai Memory of the World UNESCO.

Pertemuan kedua dengan Menlu Serbia.

Dalam pertemuan dengan Menlu Nikola, Retno memfokuskan pembahasan untuk meningkatkan kerja sama ekonomi Indonesia-Serbia.

Beberapa hal yang saya sampaikan antara lain yaitu;

Pertama, menjadikan KTT Peringatan GNB ini menjadi momentum yang baik untuk secara formal menominasikan arsip KTT NAM ke-1 di Beograd sebagai Memory of the World UNESCO. Kedua, kerja sama hukum kedua negara. Keempat, kerja sama ekonomi.

Pertemuan ketiga yaitu KTT peringatan 60 tahun GNB.

Simak berita lainnya di Youtube NAWACITA TV

Sekjen PBB antara lain menyampaikan bahwa pelaksanaan KTT ini sangat tepat waktu karena tantangan global yang dihadapi dunia saat ini. Dan sekjen mengatakan masih relevannya nilai-nilai GNB 60 tahun yang lalu dengan situasi dunia saat ini. Sekjen PBB secara khusus menyampaikan pentingnya keseteraan akses terhadap vaksin dan kerja sama dalam menghadapi perubahan ini.

Di dalam sesi debat umum, Retno sebagai utusan khusus Presiden RI dan karena Indonesia sebagai salah satu pendiri GNB, diberi kesempatan sebagai pembicara pertama.

Dalam KTT tersebut, Retno sampaikan bahwa tantangan dunia setelah 60 tahun berdirinya GNB masih besar dan bahkan lebih kompleks seperti pandemi dan perubahan iklim.

Dasa Sila Bandung telah menanamkan nilai dan prinsip untuk mengatasi tantangan dunia saat ini setidaknya di 3 hal. Pertama, nilai dan prinsip persamaan antar negara. Kedua, nilai dan prinsip kerja sama. Ketiga, nilai dan prinsip penghormatan terhadap keadilan.

Semua negara GNB masih berhutang kepada rakyat palestina. Kemerdekaan bangsa Palestina. Dasa Sila Bandung memandatkan kita untuk mendukung Palestina dalam perjuangannya mendapatkan keadilan.

Pada hari ini, saat kita memperingati pembentukan GNB, Retno meminta dukungan prakarsa Indonesia untuk menominasikan arsip KTT NAM ke-1 di Beograd sebagai UNESCO Memory of the World.

Pentingnya sejarah GNB ini menjadi pengingat kita akan nilai, cita-cita dan prinsip-prinsip GNB.

(Kornelius Wau)