Bahas Krisis Myanmar, Jokowi akan Temui Sultan Brunei Darussalam

0
400

Jakarta, NAWACITAPOST – Bentuk perhatian pemerintah Indonesia terhadap konflik yang terjadi di Myanmar disampaikan langsung oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang mendesak militer Myanmar agar berhenti melakukan kekerasan dalam menghadapi para pengunjuk rasa anti kudeta.

Jokowi menegaskan bahwa keselamatan dan kesehjateraan rakyat atau warga sipil harus menjadi prioritas utama.

“Indonesia mendesak agar penggunaan kekerasan di Myanmar untuk segera dihentikan. Sehingga tidak ada lagi korban berjatuhan,” kata Jokowi di Istana Bogor dalam keterangan persnya, Jumat (19/3).

Selain itu, kata Jokowi, Indonesia mendesak agar para pihak menempuh jalur dialog untuk menyelesaikan masalah. Tak hanya itu, Jokowi juga akan melakukan pembicaraan dengan Sultan Brunei Darussalam selaku Ketua ASEAN agar cepat menggelar pertemuan tingkat tinggi yang membahas krisis di Myanmar.

“Dialog agar rekonsiliasi segera dilakukan untuk memulihkan demokrasi, untuk memulihkan perdamaian, dan untuk memulihkan stabilitas di Myanmar,” ucapnya.

Jokowi juga turut berduka cita dan simpati kepada korban dan keluarga korban akibat penggunaan kekerasan di Myanmar.

“Atas nama pribadi dan seluruh rakyat Indonesia saya menyampaikan duka cita dan simpati mendalam kepada korban dan keluarga korban akibat penggunaan kekerasan di Myanmar,” ujarnya.

Seperti diketahui, Myanmar mengalami krisis setelah junta militer menahan pemimpin de facto Aung San Suu Kyi dan Mengumumkan kudeta pada 1 Februari 2021 lalu. Militer juga mengumumkan status darurat militer selama satu tahun.

Kudeta itu memicu pemberontakan massal. Ratusan ribu orang turun ke jalan untuk menuntut kembalinya demokrasi.