Perawat dan Dokter di New York Protes Kematian George Floyd

0
187
Perawat dan Dokter di New York Protes Kematian George Floyd

NAWACITAPOST – Perawat dan dokter di New York, yang dipuji sebagai pahlawan dalam upaya memerangi virus corona (Covid-19), ikut turun ke jalan mengecam diskriminasi rasial dalam sistem kesehatan masyarakat dengan bergabung dalam demonstrasi memprotes kematian George Floyd.

Dengan mengenakan masker, seragam rumah sakit dan peralatan pelindung pribadi lainnya, sekira seratus pekerja medis pada Kamis (4/6/2020) dengan singkat berjalan keluar dari Rumah Sakit Bellevue di Manhattan untuk berdemonstrasi menentang rasisme struktural di Amerika.

Mereka memegang papan bertuliskan “Perawatan kesehatan untuk semua” dan “Rasisme membunuh pasien saya”. Mereka berlutut dalam diam selama delapan menit dan 46 detik, sama dengan lamanya waktu polisi Minneapolis menekan leher Floyd sebelum dia meninggal.

Baca Juga :  DPR : Langkah Strategis melibatkan TNI Pada Era New Normal

“Kami mengambil sumpah untuk melayani semua masyarakat, kami mengambil sumpah untuk melindungi kesehatan masyarakat dan saat ini penggunaan kekuatan yang berlebihan dan kebrutalan polisi adalah darurat kesehatan masyarakat,” kata Kamini Doobay, seorang petugas medis, yang dilansir AFP, Jumat (5/6/2020).

Doobay, seorang dokter darurat di Bellevue, adalah salah satu penyelenggara protes terkoordinasi pada Kamis yang melibatkan enam rumah sakit di seluruh New York.

“Sebagai seorang profesional perawatan kesehatan yang saat ini memerangi Covid-19, saya juga terus memerangi virus rasisme,” kata Billy Jean, seorang perawat yang berkulit hitam, kepada kerumunan.

Epidemi virus corona, yang menewaskan sekitar 21.000 penduduk New York City, telah secara tidak proporsional mempengaruhi komunitas minoritas, termasuk warga Afrika-Amerika.

Berdasarkan data resmi, hampir 23 persen dari mereka yang telah meninggal di seluruh Amerika Serikat adalah warga berkulit hitam, meskipun orang kulit hitam hanya 13,4 persen dari populasi negara itu.

Di New York, anggota komunitas kulit hitam meninggal dua kali lipat dari jumlah orang kulit putih.

Para profesional kesehatan mengatakan kurangnya perawatan kesehatan universal berarti kelompok yang kurang mampu tidak menerima perawatan yang tersedia bagi mereka yang lebih kaya.

“Kami melihat pasien kulit berwarna mati secara tidak proporsional akibat penyakit kronis, tidak mendapatkan tindak lanjut yang tepat, dan tentu saja kami melihat kekerasan mematikan yang mengganggu komunitas ini,” kata Dokter Damilola Idowu yang berusia 28 tahun.

Pada Selasa (2/6/2020), puluhan dokter dan perawat dari Rumah Sakit Mount Sinai turun ke jalan untuk memberi tepuk tangan kepada ribuan pengunjuk rasa yang berbaris di Fifth Avenue.

Protes spontan serupa telah terjadi di luar rumah sakit lain di New York dan di tempat lain di negara ini, termasuk Texas Medical Center di Houston dan Howard University Hospital di Washington DC.

Tepuk tangan itu mengingatkan pada tepuk tangan jam 7:00 sore untuk staf medis yang telah menjadi ritual harian bagi warga New York selama krisis virus corona.

“Sekarang para pemrotes yang menyerukan masalah-masalah ini, yang mempertaruhkan tubuh mereka, mengambil risiko ditangkap, mempertaruhkan kekerasan polisi sendiri, mereka adalah pahlawan sekarang,” kata Idowu.

“Jadi rasanya pantas bagi kita untuk mendukung mereka dan mendukung mereka dengan cara yang sama mereka mendukung kita ketika kita berjuang melawan Covid.”