Lawan Virus Corona, Tiga Negara di Eropa Terapkan “herd immunity”

1
175
Lawan Virus Corona, Tiga Negara di Eropa Terapkan "herd immunity"

Nawacitapost- Kasus virus corona hingga saat ini telah menginfeksi lebih dari 950 ribu orang di seluruh dunia. Eropa menjadi wilayah dengan negara-negara yang terkena dampak paling parah dibandingkan benua lain.

Kendati kasus total kasus penyebaran corona tertinggi berasal dari Amerika Serikat, namun Italia menjadi negara dengan angka kematian terbesar. Selain Italia, kasus corona terbanyak di Eropa juga berasal dari Spanyol, Jerman, Prancis, dan Inggris.

Berbagai upaya dilakukan pemerintah untuk menghentikan penyebaran virus corona. Selain mengambil kebijakan penguncian wilayah (lockdown), sejumlah negara juga menginisiasi pembentukan kekebalan kelompok (herd immunity) untuk menghentikan penyebaran infeksi.

Herd immunity terjadi ketika sebagian besar populasi kebal terhadap infeksi virus. Dengan cara itu, virus akan kesulitan menemukan inang yang rentan hingga akhirnya bisa menghentikan wabah.

Kendati bisa mengatasi penyebaran pandemi, konsep ini justru dinilai mengerikan karena virus akan terus dibiarkan menyebar dan menginfeksi banyak orang terlebih dahulu. Para ahli bahkan memperkirakan butuh 60-70 persen orang yang terinfeksi untuk membentuk populasi yang kebal hingga akhirnya mencapai kekebalan kelompok (herd immunity).

Sejauh ini, tiga negara di Eropa yakni Inggris, Belanda, dan Swedia sempat merencanakan untuk menerapkan herd immunity untuk menghentikan penyebaran virus corona. Namun, ketiga negara kemudian membatalkan strategi tersebut karena berisiko cukup besar.

1.Inggris

Inggris menjadi negara yang pertama kali mengenalkan secara tidak resmi konsep herd immunity untuk menghentikan penyebaran pandemi corona.

Media Inggris melaporkan bahwa “pemerintah Inggris membiarkan virus menjangkau seluruh populasi sehingga dapat memperoleh kekebalan kelompok” dan meminimalkan dampak Covid-19.

“Karena sebagian besar orang menderita gejala ringan, (tujuan kami) untuk membangun semacam kekebalan kelompok sehingga lebih banyak orang yang kebal terhadap penyakit ini dan mengurangi penularannya,” kata kepala penasihat ilmiah Inggris, Patrick Vallance, dalam siaran televisi, seperti dikutip The Guardian, Kamis (2/4)

Namun, Menteri Kesehatan Inggris Matt Hancock kemudian mengatakan bahwa membentuk herd immunity bukanlah strategi utama mereka untuk menghentikan virus.

“Itu adalah konsep ilmiah, bukan tujuan atau strategi. Strategi kami adalah untuk melindungi (pasien) yang paling rentan dan melindungi National Health Service melalui pengendalian, perlambatan, penelitian dan mitigasi,” kata Hancock dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip dari The Independent, Kamis (2/4).

Pemerintah Inggris pada pekan lalu mulai menerapkan lockdown selama tiga pekan guna mencegah penyebaran virus corona. Semua pertokoan yang tidak terlalu penting ditutup. Begitupun tempat ibadah, sehingga seluruh kegiatan keagamaan di luar rumah ditiadakan.

Sejauh ini Inggris melaporkan 33.718 kasus virus corona. Sebanyak 2.921 di antaranya meninggal, dan lebih dari 100 orang sudah dinyatakan sembuh.

2. Belanda

Sempat merencanakan mengadopsi langkah Inggris, Belanda kemudian membatalkan strategi herd immunity untuk menyetop corona di negaranya. Perdana Menteri Belanda Mark Rutte pun mengonfirmasi perpanjangan kebijakan lockdown hingga akhir April.

Dengan demikian, seluruh sekolah, restoran, bar, kelab malam masih akan ditutup. Pemerintah juga menutup pertokoan, kecuali supermarket.

Sebelumnya, Rutte mengusulkan untuk membiarkan virus corona menyebar di kalangan populasi dengan kecepatan yang lebih lama, sehingga dapat ‘membangun kekebalan kelompok’. Namun, karena mendapat banyak kritik, ia meralat pernyataan tersebut.

Baca Juga : Virus Corona Jenis Baru (SARS-CoV-2) Bisa Menular melalui Bicara dan Napas

Rutte kemudian menegaskan, membentuk herd immunity bukanlah tujuan utama pemerintah dalam menyetop wabah. Namun, ia menyebut kekebalan semacam itu akan terbangun dengan sendirinya jika persebaran virus semakin meluas.

“Tujuan dari strategi kami adalah untuk memastikan sektor perawatan dapat mengatasi (virus), agar lansia dan orang rentan dilindungi sebanyak mungkin,” kata Rutte, seperti dikutip Dutch News, Kamis (2/4).

Hingga Kamis, Belanda mencatat 14.697 orang terinfeksi virus corona. Sebanyak 1.339 orang di antaranya meninggal dunia, sedangkan 250 dinyatakan sembuh.

3.Swedia

Berbeda dengan Inggris dan Belanda yang sudah menerapkan lockdown, Swedia justru masih mengizinkan aktivitas di sekolah menengah dan universitas.

Restoran, pertokoan, dan unit bisnis lainnya dilaporkan masih diizinkan buka. Para pekerja dan warga Swedia lainnya pun masih berlalu lalang di jalan.

Sementara ini, Swedia baru membatasi pertemuan di atas 50 orang dan mengimbau warganya untuk belajar dan bekerja dari rumah jika memungkinkan.

Meski tidak setegas negara lain, para ahli pun melihat Swedia mungkin berencana membentuk herd community untuk memperlambat penularan Covid-19 secara bertahap.

Kepala epideminologi Swedia, Anders Tegnell, mengungkapkan kepada media setempat bahwa konsep herd immunity bukanlah suatu tujuan yang bertentangan. Tegnell beralasan strategi herd immunity dapat memperlambat penyebaran infeksi dan membantu para petugas kesehatan agar memiliki waktu kerja yang wajar.

Dibandingkan dengan Inggris dan Belanda, Swedia memiliki kasus virus corona yang masih terlampau cukup jauh, yakni 5.568, dengan angka kematian sebanyak 308 kasus.

Data terbaru per Jumat (3/4), virus corona dilaporkan telah menewaskan lebih dari 50 ribu orang di seluruh dunia. Namun, 212.018 di antaranya sudah dinyatakan sembuh.

Comments are closed.