Komitmen China sebagai Keniscayaan

3
97
Jakarta, NAWACITA -
Prabowo ke Beijing untuk Perkuat Kerja Sama Pertahanan dengan Tiongkok

Jakarta, NAWACITA – “Waktu saya ketemu Xi Jinping dia bilang mau komitmen jadi investor terbesar di Indonesia. Saat ini jepang nomor satu, Singapura berikutnya,” kata Luhut di Shangri-La Hotel, Jakarta Pusat, Selasa (10/12/2019). Itu disampaikannya setelah kunjungan ke Beijing awal bulan Nomber. Minggu lalu Jokowi menugaskan Menteri Pertahanan Prabowo ke Beijing untuk menindak lanjuti komitmen China itu. Kerjasama Pertahanan Militer China-Indonesia sudah ditanda tangani.

Menurut saya janji Presiden China itu bukan sekedar diplomasi janji kosong. Tetapi suatu keharusan bagi China untuk kepentingan geostraregi dan geopolitik jangka panjangnya. Jadi ini bukan tawaran karena Indonesia memohon. Tetapi China yang dalam posisi memohon kepada Indonesia. Mengapa? baik saya jelaskan dibawah ini dengan cara sederhana.

Baca Juga: Pernyataan PCINU Tiongkok, KH Imron Rosyadi Hamid Terkait Muslim di Xinjiang

Cina itu sangat rakus akan oil. Ini bukan hanya untuk energi tetapi juga untuk kebutuhan Industri Petrokimia yang sangat penting bagi semua Industri di China. Suplay minyak itu 90% diharapkan dari negara Timur tengah. Secara bisnis selagi China mampu membayar tidak ada masalah. Tetapi yang jadi masalah ada soal logistik. Apa jadinya bila jalur logistik yang dikuasai AS, digunakan AS untuk menekan China? itu bisa hancur ekonomi AS. Maklum AS jago jadi rente terhadap negara lain sampai negara itu bangkrut atau lemah. China tidak ingin itu terjadi.

Nah, demi mengamankan jalur logistik ekspor dan impor, Cina harus mengamankan jalur perairan antara Laut Cina Selatan, Selat Malaka, melintas Samudera Hindia, Laut Arab, Teluk Persia, dan seterusnya sehingga kalau dipotret pada peta, membentuk seperti untaian kalung (pearl). Untuk itu China membangun infrastruktur logistik seperti di Pulau Hainan, misalnya, atau landasan terbang darurat di Pulau Woody, di Kepulauan Paracel; atau fasilitas pengiriman kontainer di Chittagong, Bangladesh, pelabuhan di Sittwe, Myanmar, pembangunan basis angkatan laut di Gwadar, Pakistan, pembangunan jalur pipa melalui Islamabad dan Karakoram Highway ke Kashgar di Xinjiang, ataupun fasilitas pengumpulan intelijen di pulau-pulau di Teluk Benggala dekat Selat Malaka, pelabuhan Hambantota di Sri Lanka dan lain-lain.

Yang jadi masalah adalah di wilayah laut China selatan bercokolnya kapal-kapal perang Amerika Serikat (AS) —Armada ke 7 Amerika— di Singapura. China mati kutu di Laut China selatan. Artinya, jika kelak terjadi ketegangan antara China dan AS, jalur logistik China akan terhambat. Padahal 82% jalur logistik China melintasi selat Malaka. Lantas gimana solusinya ? sejak awal Jokowi berkuasa, China sudah melobi Pemerintah Indonesia untuk menghidupkan jalur Selat Sunda (ALKI I), Selat Lombok (ALKI II). Apa alasannya? Ya, andaikan AS meblokade laut China selatan, Jalur ini sebagai alternatif bagi China menuju Samudera Hindia, Laut Arab dll.

Baca Juga: Potensi Geopolitik Xinjiang (China) yang Membuat AS Telan Ludah

Artinya berapapun Indonesia butuh dana untuk meningkatkan ekonomi nasional dan dengan skema apapun yang meringankan Indonesia, China akan bersedia. Asalkan pemerintah Indonesia mengizinkan China membangun pelabuhan besar di Sumatera Utara, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara dan Bali. Bagi China soal geostrategis adalah segala galanya. Terlalu besar resiko Pemerintah China bila 1,8 miliar penduduk China nasipnya tergantung dengan arogansi Paman Sam. AS sudah mengetahui arah kebijakan Indonesia pada periode kedua Jokowi ini. Itu sebabnya issue soal Uighur kembali bergolak yang dilakukan oleh proxy AS di Indonesia.

Nah, saran saya, pemerintah Indonesia harus smart memanfaatkan geostrategis China ini agar bukan hanya dapat janji dan penonton saja tetapi benar benar menguntungkan Indonesia. Pakai istilah pemain hedge fund “ tempalah besi selagi panas. “ Artinya tarik uang china disaat dia kepepet. Jangan keluarkan izin investasi pelabuhan sebelum uang yang dijanjikan masuk ke Indonesia. Nah saat sekarang China kepepet. Cepatan tarik duitnya, amankan pertumbuhan investasi sampai dengan lima tahun kedepan.

Erizeli JB (Pecinta Kebijaksanaan)

Comments are closed.