Membelot ke Korea Selatan, Tentara Korut Diinterogasi

0
471

Seoul, NAWACITA – Seorang tentara Korea Utara dilaporkan telah membelot ke Korea Selatan dengan menyeberangi sungai melintasi Zona Demiliterisasi. Insiden yang jarang terjadi di perbatasan yang dijaga sangat ketat di kedua sisi. Hanya sedikit orang yang berani menyeberangi Zona Demiliterisasi yang dipenuhi ranjau darat dan memiliki kehadiran militer yang kuat di kedua sisi.

Pembelotan itu dilaporkan pada Kamis (1/8/2019), yang terjadi di bagian tengah semenanjung. Namun tentara itu sudah terlihat melalui peralatan pengintaian pada Rabu (31/7/2019) malam di Sungai Imjin, sisi selatan Garis Demarkasi Militer, yang membentuk perbatasan dalam hujan lebat dan kabut, menurut Kantor Kepala Staf Gabungan (JCS) di Seoul.

“Tidak jelas apakah dia berenang, mengambang, atau berjalan di perairan dangkal, karena hanya kepalanya yang terlihat.”

“Dia ditahan sesuai dengan prosedur dan diinterogasi, di mana dia diidentifikasi sebagai tentara yang masih bertugas aktif dan menyatakan keinginannya membelot ke Selatan,” kata JCS. “Tidak ada gerakan dari militer Korea Utara yang terlihat secara signifikan,” kata Seoul yang menambahkan, penyelidikan lebih lanjut diperlukan untuk mengetahui motif prajurit itu.

Selain tentara yang membelot itu, pada Rabu (31/7/2019), di dekat sungai Imjin, di kota perbatasan Paju, dilaporkan juga ditemukan mayat seorang pria yang dianggap sebagai tentara Korea Utara. Namun kondisi kematiannya tidak dapat ditentukan. Lebih dari 30.000 orang Korea Utara telah kabur ke Selatan sejak Perang Korea yang memisahkan dua negara 65 tahun silam, sebagian besar karena himpitan ekonomi, menurut keterangan Seoul, sebagaimana dilansir dari kompascom.

Pada November 2017, seorang tentara Korut menjadi perbincangan global ketika dia merangsek menuju desa perbatasan Panmunjom dan dihujani rentetan tembakan. Pada 2012, seorang tentara Korea Utara berjalan tanpa pengawasan melalui deretan pagar dan kamera pengintai, mendorong Seoul untuk memecat tiga komandan lapangan untuk selang keamanan. Korea Utara berada di bawah sanksi ekonomi berat atas program senjata nuklir dan rudal balistiknya. Pyongyang mencela pembelot, yang merupakan sumber penting untuk menjelaskan perlakuan rezim terhadap warganya, sebagai “sampah manusia”.