Tokoh Oposisi Rusia Alexei Navalny, Dipenjara dan Diracuni

11
159

Moscow, NAWACITA – Tokoh oposisi Rusia paling populer, Alexei Navalny, telah dibawa dari penjara ke rumah sakit di Moskow. Pejabat setempat mengatakan bahwa Navalny dalam kondisi yang sehat, tetapi dokter pribadinya mengatakan hal yang berbeda yakni bahwa Navalny telah diracuni, sebagaimana dilansir dari BBCNews, 29/07/2019.

Navalny dipenjara selama 30 hari yang lalu setelah ikut dalam demonstrasi yang dianggap tidak sah oleh pemerintah dan hampir 1.400 orang ditahan bersamanya.

Uni Eropa mengkritik penggunaan kekuatan yang “tidak proporsional” terhadap para demonstran, dengan mengatakan bahwa hal itu merusak “hak untuk berekspresi, berserikat dan berkumpul”.

Laporan media setempat mengatakan  ada sekitar 20 orang, termasuk wartawan, juga ditahan setelah berkumpul di luar rumah sakit penjara pada Minggu malam dimana Navalny dirawat. Navalny dilaporkan mulai menderita pembengkakan akut, air matanya keluar dan terjadi ruam di leher, punggung, dada, serta pergelangan tangannya. Koordinator demonstrasi Leonid Volkov, mengatakan dia memiliki reaksi yang sama saat menjalani hukuman penjara di sel penjara yang sama karena demonstrasi.

Dalam sebuah postingan Facebook, istrinya mengeluh bahwa dia telah dilarang mengunjungi Navalny.

Pria berusia 43 tahun ini menjadikan namanya terkenal di Rusia karena dia sering kampanye anti-korupsi di akar rumput.

Dia memimpin demonstrasi jalanan terbesar di negara itu terhadap Presiden Putin pada 2011 dan telah berulang kali dipenjara. Navalny menderita luka bakar kimia serius di mata kanannya pada tahun 2017 setelah ia diserang dengan pewarna antiseptik.

Dia berusaha untuk ikut dalam pemilihan presiden tahun lalu, tetapi dilarang karena tuduhan penipuan sebelumnya dalam kasus yang katanya bertendensi politik.

Ribuan orang Rusia turun ke jalan Sabtu lalu untuk menuntut pemilihan yang adil. Demonstrasi terjadi setelah 30 kandidat oposisi dilarang ikut mencalonkan diri dalam pemilu September yang akan datang.

Otoritas Rusia mengatakan bahwa para kandidat gagal mengumpulkan cukup tanda tangan yang sah sebagai syarat untuk mencalonkan diri, tetapi kelompok-kelompok oposisi berpendapat bahwa pembatasan itu bermotif politik.

Sejumlah pengunjuk rasa terlihat berdarah, sementara dua anggota pasukan keamanan dilaporkan mengalami cidera di bagian mata akibat semprotan gas air mata.

Comments are closed.