Meninggal di Penjara Israel, Tahanan Palestina diminta Diotopsi

0
146

TEPI BARAT, NAWACITA — Seorang tahanan asal Palestina yang ditahan di Israel dikabarkan meninggal pada Selasa (16/7) pagi. Pria bernama Nassar Taqatqa diketahui sempat ditahan dalam sel isolasi dan menghembuskan napas terakhirnya sebulan setelah penangkapannya pada 19 Juni lalu.

Menurut Pusat Studi Tahanan Palestina, pria 31 tahun tersebut ditangkap saat pasukan Israel menyerbu kediamannya di Beit Fajjar, selatan kota Betlehem, Tepi Barat. Sebelum ditahan di sel isolasi di Penjara Nitzan di al-Ramleh, Taqatqa awalnya dibawa ke pusat introgasi Jamaleh yang dikenal sebagai salah satu penjara terburuk di Israel, di mana banyak terdengar laporan para tahanan yang mengalami pelecehan fisik dan psikologis oleh petugas Israel.

“Kami terkejut mengetahui kematiannya pagi ini,” kata Mohammad, sepupu Taqatqa dilansir Aljazirah, Rabu (17/7). Dia juga menambahkan bahwa keluarganya kini sedang menunggu informasi lebih lanjut mengenai Taqatqa.

“Kami masih belum menerima mayatnya tetapi otopsi akan dilakukan untuk mencari tahu penyebab kematiannya,” ujarnya.

Dalam sebuah pernyataan, kementerian luar negeri Palestina menyerukan akan melakukan penyelidikan internasional atas kematian tersebut. Pusat Studi Tahanan Palestina mengatakan akan menuntut Israel untuk bertanggung jawab atas kematian Taqatqa.

Qadri Abu Bakar, kepala Komite Urusan Tahanan Palestina menduga, kematian Taqatqa akibat dari penyiksaan dan kelalaian medis selama ditahan, mengingat dia tidak menderita penyakit apa pun sebelum penangkapannya. Sebelumnya, pasukan Israel mengklaim bahwa Taqatqa meninggal akibat stroke.

“Kami tidak akan menerima versi Israel atas kematian Taqatqa. Kami menuntut otopsi untuk dilakukan sesegera mungkin untuk menentukan penyebab kematiannya,” kata Abu Bakar.

Sementara itu, pejabat Israel belum memberikan komentar langsung atau menanggapi pertanyaan dari awak media mengenai kematian Taqatqa. Sedangkan, keluarga Taqatqa telah mengkonfirmasi kepada media setempat bahwa Nassar tidak memiliki masalah kesehatan dan ini adalah pertama kalinya dia ditangkap.

Menurut keluarganya, Taqatqa adalah pribadi yang sederhana dan jujur. Amina al-Taweel, seorang peneliti di Pusat Studi Tahanan Palestina, menyebut kematian Taqatqa sebagai eksekusi berdarah dingin.

“Penjara dikenal karena kondisinya yang mengerikan dan penjaga yang kejam. Selama penahanan Taqatqa, dia tidak diizinkan mengakses pengacaranya, kunjungan keluarga atau komunikasi dengan orang lain,” kata al-Taweel.

Menyusul kabar kematian Taqatqa, Hassan Abedrabbo, juru bicara Komite Urusan Tahanan Palestina, mengatakan bahwa pasukan Israel menutup semua penjara yang menahan tahanan Palestina. Israel juga telah melarang pengacara mereka untuk berkunjung, serta membatalkan sesi pengadilan dan transfer tahanan untuk hari itu.

Abedrabbo menambahkan, penjara-penjara Israel berada dalam ketegangan dan kewaspadaan karena para tahanan Palestina berencana untuk memprotes kematian Taqatqa. Menurut sebuah pernyataan yang diunggah di halaman Facebook-nya, Lembaga Penjara Palestina mengatakan para tahanan dipersiapkan untuk konfrontasi dengan administrasi penjara Israel.

“Begitu mereka mendengar berita kematian Taqatqa, para tahanan menggedor pintu sel mereka, dan telah memberi tahu administrasi penjara bahwa mereka tidak akan menerima makanan mereka,” kata Abedrabbo.

Pusat Studi Tahanan Palestina mengatakan, meninggalnya Taqatqa, menambah jumlah tahanan Palestina yang telah meninggal di penjara-penjara Israel sejak 1967, menjadi 220 orang. Menurut Addameer, kelompok hak asasi tahanan Palestina, saat ini ada 5.250 tahanan di penjara-penjara Israel, termasuk 205 anak-anak dan 44 perempuan.