Pengeboman Gedung di Tripoli, 44 Imigran Tewas dan 80 Luka-Luka

20
231

Tripoli, NAWACITA- Hanggar di Tajoura, Tripoli, Libya, itu luluh lantak. Mayat, potongan tubuh, dan darah bercampur dengan serpihan bangunan. Selasa malam 2 Juli 2019, bangunan yang dialihfungsikan sebagai pusat detensi imigran itu dibombardir. Setidaknya 44 imigran tewas dan lebih dari 80 orang lainnya luka-luka.

“Pengeboman ini jelas merupakan kejahatan perang,” tegas Juru Bicara UNHCR Charlie Yaxley sebagaimana dikutip BBC. Penduduk sipil seharusnya tidak menjadi target serangan.

Korban jiwa bisa terus bertambah karena evakuasi belum usai. Anggota kelompok dialog politik di Libya yang didukung PBB Guma El-Gamaty mengungkapkan, perempuan dan anak-anak ikut menjadi korban.

Sementara itu, dokter Khalid bin Attia dari Kementerian Kesehatan Libya menyebutkan bahwa lokasi kejadian benar-benar kacau. “Orang-orang di mana-mana, kamp itu hancur, orang-orang menangis dan listrik padam. Ada trauma psikologis,” jelas Attia.

Hingga kemarin, Rabu (3/7), belum ada pihak yang mengaku bertanggung jawab atas serangan mematikan tersebut. Pemerintah Libya menuding pemberontak yang dipimpin Jenderal Khalifa Haftar sebagai pelakunya.

Sejak awal April, mereka memang berusaha mengambil alih Tripoli. Di sisi lain, kelompok Khalifa Haftar balik menuding pemerintah Libya sebagai pelakunya.

Tajoura memiliki beberapa kamp militer. Baik itu yang dikelola militer resmi maupun kelompok bersenjata pro pemerintah. Selama ini pasukan Khalifa Haftar selalu menyerang kamp-kamp tersebut.

Hanggar yang menjadi lokasi serangan bersebelahan dengan salah satu kamp militer. Sangat mungkin pelakunya memang Khalifa Haftar. Sebab, media yang pro dengan kelompok pemberontak itu memberitakan bahwa mereka melakukan serangkaian serangan udara pada Selasa malam.

Ketua Komisi Uni Afrika Moussa Faki Mahamat mengecam serangan itu. Dia menyerukan kedua pihak yang sedang bertikai melakukan gencatan senjata. Selain itu, memastikan perlindungan dan keselamatan penduduk sipil, terutama imigran yang ditawan di pusat detensi.

 

Comments are closed.