Teheran, NAWACITA – Iran mendesak Inggris untuk mengembalikan kapal tanker Grace I yang ditahan di Selat Gibraltar, Kamis kemaren. Gibraltar merupakan wilayah Inggris yang berada di ujung selatan Spanyol, pintu masuk menuju Laut Mediterania.

Seorang pejabat Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Iran menyebut, penahanan tanker tersebut tak bisa diterima dan menuduh Inggris bertindak atas permintaan Amerika Serikat (AS).

Semua pernyataan itu telah disampaikan kepada Duta Besar Inggris untuk Iran, Rob Macaire, yang dipanggil sebagai bentuk protes.

“Menyerukan agar kapal tanker minyak segera dibebaskan, mengingat kapal itu telah disita atas permintaan AS, berdasarkan informasi tersedia,” bunyi pernyataan kemlu, dikutip dari AFP, Jumat (5/7).

Pihak berwenang Gibraltar sebelumnya menyatakan, tanker itu membawa minyak mentah yang diduga akan dikirim ke Suriah. Langkah tersebut melanggar sanksi Uni Eropa sehingga dilakukan penahanan.

Grace 1 dihentikan oleh polisi dan petugas bea cukai dibantu Marinir Kerajaan Inggris. Titik penahanan adalah 4 kilometer sebelah selatan Gibraltar, perairan yang dianggap masih masuk Inggris, meskipun Spanyol juga mengklaim wilayah itu.

“Kami memiliki alasan untuk meyakini bahwa Grace 1 membawa minyak mentah ke kilang Banyas di Suriah. Kilang itu milik entitas yang dikenai sanksi Uni Eropa terhadap Suriah. Kami menahan kapal dan muatannya,” kata Kepala Menteri Gibraltar, Fabian Picardo, dalam pernyataan.

Penahanan kapal sepanjang 330 meter itu terjadi di tengah situasi hubungan Iran dan Uni Eropa yang sensitif. Iran sebelumnya menyatakan akan meningkatkan pengayaan uraniumnya setelah 7 Juli 2019, melebihi batas yang tercantum dalam kesepakatan nuklir 2015.

Ini sebagai respons atas sanksi ekonomi yang diberlakukan AS setelah insiden serangan drone dan beberapa kapal tanker di Teluk Oman.

Baca juga :  Presiden XI Jinping Mendarat di India di Tengah Protes Tibet

 

Comments are closed.