Militer Sudan Gulingkan Presiden Omar al-Bashir

0
168

Khartoum, NAWACITA- Militer Sudan menggulingkan Presiden Omar al-Bashir pada April setelah rakyat berbulan-bulan protes terhadap 30 tahun jabatannya.

Pasca pengambilalihan kekuasaan, dibentuklah Dewan Militer sebagai penguasa sementara. Sementara itu, pihak sipil terus meramu sistem pemerintahan yang baru dan menyerahkan draft kepada Dewan Militer yang ternyata salah satu isinya adalah membatasi peran militer.

Dewan tersinggung, dan menolak menyerahkan kekuasaan kepada sipil. Satu bulan kemudian, pihak sipil menggelar aksi demonstrasi dengan ribuan pengunjuk rasa berkemah menduduki area sekitar Kementerian Pertahanan Sudan. Tuntutan mereka, penguasa militer yang menggulingkan Bashir segera menyerahkan tampuk kekuasaan kepada warga sipil.

Konsensus tentang garis besar kesepakatan untuk memasang pemerintahan sipil sebenarnya telah tercapai, namun negosiasi yang berlarut-larut antara koalisi kelompok-kelompok pro-reformasi dan militer telah kandas pada pertanyaan tentang siapa yang akan mendominasi badan pembuat keputusan puncak selama periode sementara. Inilah masalah utamanya.

Aksi demonstrasi kemudian dinilai mengganggu, hingga Senin kemarin, seperti dilansir media Inggris The Guardian, Pasukan RSF Paramiliter diterjunkan untuk membubarkan massa yang sebenarnya menggelar aksi damai dengan berkemah.

Akan tetapi, pembubaran berubah menjadi bentrokan, dimana dilaporkan hingga saat ini perkiraan 10 korban tewas dan 60 dipastikan luka-luka. Aksi blokade jalan oleh demonstran juga meluas hingga keluar Kota Khartoum.

Atas apa yang terjadi, RSF Paramiliter Sudan pimpinan Mohamed Hamdan Dagalo yang dikenal sebagai Hemedti, akhirnya dituduh melakukan pelanggaran HAM yang sistematis. Dagalo juga menjabat sebagai Wakil Kepala Dewan Militer transisi, komite pemerintahan negara itu.

Irfan Siddiq, duta besar Inggris di Sudan, mengatakan dia sangat prihatin dengan tembakan keras yang dia dengar dari rumah resminya di Khartoum dan laporan-laporan bahwa pasukan keamanan Sudan menyerang tempat pemrotes.

“Tidak ada alasan untuk serangan semacam itu,” kata Siddiq. melalui akun Twitter pribadinya.

Sementara itu, Menyikapi krisis Sudan, Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS) di Khartoum angkat bicara. Penguasa militer Sudan dituding bertanggung jawab atas kekerasan yang terjadi dua sampai tiga hari belakangan ini.

“Serangan pasukan keamanan Sudan terhadap demonstran dan warga sipil lainnya adalah salah dan harus dihentikan,” kata seorang sumber penting di Kedutaan Besar AS di Kota Khartoum, Sudan.

Banyak pengamat memperingatkan perihal krisis Sudan ini. Pertikaian antara pihak sipil dan tentara dalam memperebutkan kekuasaan dapat menyebabkan kehancuran total negara itu. Bahkan jika berlarut-larut, dikhawatirkan bakal terjadi perpecahan di tubuh militer. Karena seperti diketahui, turunnya RSF menangani demonstran tidak diikuti oleh tantara reguler Sudan lainnya