Jakarta, NAWACITAPOST.COM – Pembubaran HTI dan FPI. Kelompok intoleren dan radikal ini dibubarkan di pemerintahan Presiden Jokowi. HTI resmi bubar lewat keputusan Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Timur, 2017. FPI, spanduk, dan balihonya dicopot, saat Jenderal Dudung menjadi Pandam Jaya, 2017. Kemudian, dibubarkan secara resmi lewat Depdagri, karena ormas ini tidak pernah mendaftar ulang, dan kerap menyimpang dari ketentuan dan aturan yang ada.
Baca Juga : Resmi Berbadan Hukum, PIS Siap Merajut Kebhinekaan
Sudah jelas dan tegas. Jokowi tak pernah kompromi dan berdialog dengan kelompok-kelompok radikal, yang kerjaanya memecah sesama anak bangsa.
Seharusnya, hal itu berlaku kepada seluruh rakyat Indonesia, apalagi yang mengaku sebagai pendukung setia Jokowi, yang mendambakan kedamaian dan kesejukan. Pasalnya, Gubernur Jakarta (2012 -2014) selalu menerapkan 4 pilar kebangsaan (Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika, dan NKRI) dalam berkiprah sebagai orang nomor satu di Indonesia.
Namun, rupanya itu tak berlaku bagi Immanuel Ebenezer biasa disapa Noel, yang kabarnya mengaku Ketua Umum Jokowi Mania (Joman). Terbukti, Noel malah menyodorkan diri untuk membela terduga teroris Munarman.
Seharusnya alumni Universitas Satya Negara Indonesia (USNI) 2004 itu peka dan tahu, bahwa tangan Munarman ini penuh dengan darah yang tak berdosa. Ditangkapnya Eks Sekum dan eks Jubir FPI ini oleh Tim Densus 88. Menandakan bahwa Munarman memang sangat berbahaya.
Densus 88, tak mungkin menangkap seseorang tanpa dua alat bukti yang cukup. Jejaknya sudah dipantau lama oleh pasukan khusus anti teroris ini.
Jejaknya terkuak. Saat di Sulsel, dan Sumut, Munarman melakukan pembaiatan ISIS kepada anak-anak muda dengan format acara seminar, dan diskusi.
Pasangan suami - istri yang meledakan diri di Filipina adalah pencucian otak yang dilakukan Munarman.
Ditambah, dengan 6 laskar eks FPI yang melakukan perlawanan kepada aparat penegak hukum, kepolisian. Itu juga, kabarnya buah dari torehan pencucian otaknya.
Memang Munarman bukan eksekutor dilapangan dalam melakukan peledakan atau bom bunuh diri. Melainkan, tetapi ia bisa disebut konseptor, provokator dan mungkin otak dari terror-teror peledakan dan bom yang selama ini terjadi, jelas Deni Siregar dalam chanel YouTube di Cokro TV, Kamis (24/3/2022).