Boyamin Saimin SH

Jakarta, NAWACITAPOSTJADI urutannya begini, Pak Sulaeman yang pernah saya kenal sebelumnya datang ke saya membawa perkara dan berkasnya, atas putusan pengadilan negeri Tangerang sampai tingkat kasasi  dimana pak Achman bin Jaman itu menang terhadap sengketa tanahnya,” jelas Boyamin Saimin ketika dihubungi nawacitapost, Kamis (23/9/2021).

Baca Juga : Mencatut Nama Menteri Hukum dan Ham Yasonna H Laoly, Sulaeman Daely dkk, Dilaporkan ke Polisi

Lanjut Boyamin, “Nah, pak Sulaeman mengatakan ini sudah menang lama, tapi tidak bisa dieksekusi. Artinya tanahnya belum bisa diambil. Nah, saya kemudian menganalisa dari putusan itu, memang pak Achmad bin Jaman menang. Harusnya tanahnya bisa dieksekusi, tanahnya bisa dikuasai pak Achmad bin Jaman. Satu-satunya cara yaitu putusan pengadilan yang inkraht itu tadi,  dibawa ke pengadilan untuk minta dieksekusi. Artinya mengajukan permohonan eksekusi.”

Baca Juga : Mencatut Nama Pak Yasonna : Ini Penjelasan Korban Penipuan

“Atas dasar putusan itu saya datang ke pengadilan Tangerang  untuk bertanya kepada  pihak pengadilan, waktu itu ketemu panitera dan panitera ngajak pak Ketua Pengadilan. Nah, kemudia saya tanya, kenapa kasus ini belum dieksekusi? Padahal sudah menang. Baru, ketua Pengadilan menjawab bahwa  terhadap putusan itu tidak bisa dieksekusi, tidak bisa diberikan kemenangan kepada pak Achman bin Jaman, karena ada putusan lain, dimana putusan lain itu adalah putusan bantahan terhadap putusannya pak Achman bin Jaman,” tegasnya.

Baca Juga : Terkait Nama Pak Yasonna Dicatut, Ini Penjelasan Sulaeman Daely 

Orang lain itu membantah, bahwa tanahnya itu miliknya dia, bukan miliknya pak Achmad bin Jaman, mengajukan permohonan bantahan dan sudah disidangkan juga putusan itu dan putusan bantahannya dikabulkan. Artinya tanah tersebut milik A tadi, jadi bukan miliknya pak Achman bin jaman. Nah dengan demikian, saya memahami memang tidak bisa dieksekusi, karena ada putusan lain yang menyatakan  itu tanah milik orang lain., tandas Boyamin menegaskan.

Baca Juga : Sulaeman Membantah Ada Kwitansi, Pilarius dan Diaz Mengakui

“Saya kemudian menyarankan untuk mengajukan PK kepada pak Sulaeman Daely, kalau tetap ingin memenangkan perkara tersebut. Untuk mengajukan PK kan harus ada putusan bantahan milik orang  lain tadi. Nah, untuk itu harus minta salinan copinya.  Nah kemudian dibuat surat yang ada namaku dan nama Pak Sulaeman untuk meminta salinan putusan itu. Nah, setelah dapat salinan putusan itu, saya pelajari betul,”  tuturnya.

Baca juga :  Digigit Ular, Sekuriti di Gading Serpong Meninggal Dunia

“Menurutku agak sulit mengajukan PK pun karena memang bukti-bukti girik-girik itu tidak ada yang asli. Jadi kemudian saya melepas perkara itu, tidak mengurusi lagi dan tidak juga mengajukan PK. Karena menurutku berat perkaranya. Karena tidak ada bukti-bukti aslinya. Nah, sampai disitu saya selesai. tidak ngurusi lagi,” urai Boyamin.

Baru belakangan tahu, bahwa perkara tersebut diteruskan (mengajukan PK) oleh pengacara lain, bukan dari kantor Boyamin Saimin, dan kemudian, katanya PK itu juga ditolak. Artinya pak Achmad bin Jaman kalah. Kemudian saya tidak tahu proses-proses PK itu saya tidak tahu oleh pengacara siapa, jelasnya.

Kemudian, pak Sulaeman mencari dan menghubungi saya, katanya dilaporkan di Polres Tangerang dengan tuduhan penipuan dan penggelapan. Nah, saya baru tahu pak Sulaeman bersama pengacara lain mengurus PK memakai sejumlah uang, aku tidak tahu persis, ngakunya 1 miliar lebih.

“Saat saya bertemu pak Achmad bin Jaman dan ke pengadilan Tangerang pun, saya tidak meminta sepeser rupiahpun, dan tidak minta uang ke Sulaeman Daely, karena  saya kan pengacara Probono, tuturnya.

“Nah, katanya yang memperkarakan itu kan Umardani, dan yang diperkarakan Pak Sulaeman dengan kawan-kawannya, saya ndak tahu juga. Yang saya kenal pak Sulaeman Daely dan Achmad bin Jaman, saya tidak kenal dan tidak bertemu dengan Umardani dan kawan-kawannya Pak Sulaeman, dan tidak pernah melakukan pertemuan dengan pak Umardani. Tidak pernah menerima uangnya, tidak terima uangnya, tidak ngerti uangnya, tidak pernah tawar menawar jasa dan sebagainya. Tidak tahu uang itu,”pungkas Boyamin.